this iz my ‘terpaksa berkhianat’ skripsi

•August 12, 2009 • 1 Comment

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Undang-Undang no. 2 tentang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 1989 Bab I Pasal 1 ayat 1 menegaskan pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi perannya di masa yang akan datang.
Salah satu unsur dari pendidikan adalah guru atau pendidik yakni orang atau pihak yang menyelenggarakan kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan untuk masa depan peserta didik. Sedangkan sekolah adalah tempat interaksi peserta didik dan pendidik berlangsung dalam jenjang, waktu, dan materi tertentu setelah menyelesaikan persyaratan administrasi.
Ditinjau dari kedudukannya, guru memegang posisi yang penting dan berpengaruh bagi kelangsungan masa depan siswa, karena dari hasil interaksi dengan gurulah siswa dapat mengenali potensi yang ada pada dirinya baik secara akademis maupun sikap, yang mungkin dipertahankannya sampai pada masa-masa mendatang pendidikannya. Sehingga interaksi ini menjadi salah satu kajian yang tidak henti diteliti untuk mendapatkan formula yang tepat agar menghasilkan lulusan bermutu.
Agar dapat mewujudkan visi misi sebuah sekolah yang telah disusun, harus didukung oleh semua unsur yang ada di sekolah. Manajemen sekolah yang sistematis, guru-guru yang kompeten di bidang masing-masing, dan pelayanan sekolah yang ramah dapat membuat siswa senang berada di sekolah. Begitu siswa sampai di sekolah mereka membawa tuntutan dari rumah untuk mendapatkan nilai yang bagus, tetapi sebagian siswa ada yang dapat memenuhi hal tersebut secara alami, ada pula yang kesulitan sehingga direfleksikan dengan mengganggu kelas atau bersikap apatis terhadap apa yang diajarkan.
Keadaan yang semacam ini bisa menimbulkan frustasi bagi siswa maupun guru yang berakibat pada penurunan antusias, motivasi, rasa ingin tahu, keperdulian, atau keberanian yang diperlukan untuk belajar, apabila hal ini berlangsung terus menerus. Hal ini bisa menimbulkan kejenuhan dalam diri siswa yang akhirnya berakibat pada tidak tercapainya nilai yang diinginkan atau menempuh cara semacam mencontek dan lainnya, lalu mengeluarkan statement semacam ‘belajar itu susah atau membosankan’ padahal hanya melalui pendidikan manusia bisa dicetak untuk memenuhi kebutuhan pembangunan daerah dan nasional. Bisa dibayangkan bila hal itu terus terjadi dapat berakibat pada penurunan output, dalam hal ini nilai siswa.
Untuk memperbaikinya diperlukan sebuah inovasi dalam mengembalikan motivasi belajar siswa untuk belajar. Kenyataan yang terjadi di sekolah kita adalah terbatasnya guru dengan cara mengajar yang membuat semangat siswa menggebu-gebu dalam belajar, masih adanya guru killer yang menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian siswa untuk belajar, guru yang cara mengajarnya membosankan membuat siswa tertidur dalam belajar, tetapi menginginkan siswa memperhatikan pelajarannya. Dalam kasus ini, yang perlu dibenahi adalah interaksi guru dan siswa dalam kelas, guru selaku pemberi servis pendidikan perlu diberikan keterampilan baru yang sesuai dengan perkembangan teknologi.

Pembelajaran versi Quantum Teaching adalah pembelajaran yang menyenangkan dan meningkatkan prestasi siswa. Maksudnya adalah siswa yang sebelumnya apatis, tidak antusias, tidak termotivasi, tidak berhasrat ingin tahu, dan seperti tabularasa dibangkitkan semangatnya dengan mengubah pandangan guru bahwa siswa bukanlah pribadi yang kosong tetapi sudah mengetahui informasi, tetapi belum mengetahui lebih dalam sehingga guru membantu agar mereka memahami dan bisa menerapkan dalam kehidupannya. Dengan demikian beban mengajar guru berkurang dan bisa menikmati ‘rasa’ dari mengajar, dan siswa dapat menikmati bagaimana belajar seharusnya.

1.2 Batasan Masalah
Batasan masalah adalah hal-hal yang menjadi semacam patokan agar pembahasan tetap fokus yang tidak melebar kemana-mana. Dalam tulisan ini pembahasan dibatasi oleh hal-hal berikut :
a. Batasan objek penelitian, objek penelitian ini adalah model Quantum Teaching (QT) dalam pembelajaran Sains oleh Trainer QT dengan pertimbangan agar dapat melihat praktik model QT dengan lebih jelas, trainer yang ada di sekolah mengajar Sains, agar tidak terjadi halo effect dalam observasi, dan agar proses belajar berjalan sebagaimana biasanya mengingat penelitian ini bukan penelitian eksperimental.
b. Batasan waktu, tahun penelitian ini adalah tahun 2007/2008 dengan pertimbangan pembahasan akan lebih spesifik dan nilai yang terbaru, dan lembaga yang bersangkutan baru berdiri tahun 2005.
c. Batasan tempat, SMP Negeri 1 Tanjung kelas VII A karena tahun 2007/2008 adalah tahun pertama kelas VII A diajar dengan model Quantum Teaching, sehingga menarik perhatian untuk mengetahui penerapan Quantum Teaching di kelas ini. Pemilihan lokasi penelitian berdasarkan perkembangan data yang dapat dikumpulkan di lapangan.
d. Batasan masalah, pembahasan dikhususkan pada penerapan model Quantum Teaching sebagai salah satu bentuk inovasi pendidikan di kelas yang dihubungkan dengan motivasi dan interaksi belajar siswa serta pendapat mereka tentang model yang dipakai guru Sains mereka di kelas.

1.3 Rumusan Masalah
Bertolak dari latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan menjadi rumusan masalah. Pengertian masalah dalam tulisan ini didefinisikan oleh Muhammad Hatta (1970 : 10) dalam Abdul Hakim (1998 : 9) sebagai kejadian yang menimbulkan pertanyaan di hati kita tentang kedudukannya, kita tidak puas dengan melihat saja melainkan ingin mengetahui lebih dalam.
Dari pendapat tersebut, masalah adalah keadaan atau peristiwa yang menimbulkan pertanyaan dan pertanyaan itu mendorong untuk mengadakan penelitian. Fokus utama dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : Bagaimanakah penerapan model Quantum Teaching dalam pembelajaran Sains di kelas VII A pada tahun 2007/2008?
Secara lebih khusus, fokus penelitian tersebut dirumuskan menjadi pertanyaan penelitian sebagai berikut :
a. Bagaimana contoh interaksi belajar dalam model Quantum Teaching?
b. Bagaimana pendapat siswa kelas VII A SMP Negeri 1 Tanjung tentang model Quantum Teaching?
c. Bagaimana motivasi belajar siswa kelas VII A belajar dengan model Quantum Teaching?

1.4 Definisi Operasional
Agar tidak terjadi penafsiran yang ganda dalam membaca tulisan ini, maka penulis menganggap perlu mengungkapkan definisi operasional untuk menjelaskan beberapa istilah-istilah yang sering muncul dalam tulisan ini, yaitu :
a. Quantum Teaching adalah pembelajaran yang menggabungkan unsur seni dan pencapaian tujuan belajar yang terarah agar mampu melejitkan prestasi siswa, juga menggubah pembelajaran menjadi meriah dengan segala suasananya.
b. SMP Negeri 1 Tanjung adalah satu-satunya sekolah berbasis nasional di Kecamatan Tanjung dan memiliki trainer sendiri di sekolah.
c. Kelas VII A merupakan lokasi penelitian ini. Terdiri dari 24 siswa dari berbagai penjuru daerah sekitar kota Tanjung.
d. Motivasi belajar diartikan sebagai motif siswa untuk turut serta dalam kegiatan belajar mengajar baik secara ekstrinsik, maupun instrinsik.
e. Interaksi belajar diartikan sebagai komunikasi yang terjadi baik searah maupun dua arah antara pendidik dan peserta didik dalam situasi belajar mengajar.

1.5 Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan penelitian adalah hal-hal yang ingin dicapai dengan adanya penelitian ini, sedangkan manfaat adalah hal-hal yang menjadi kegunaan dari penelitian ini. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Mendeskripsikan penerapan Quantum Teaching sebagai salah satu bentuk inovasi pendidikan dalam proses mengajar khususnya tentang motivasi belajar siswa.
b. Mendeskripsikan tentang model Quantum Teaching untuk kelas VII
Manfaat penelitian itu secara teori adalah memberikan informasi mengenai penerapan model Quantum Teaching bagi motivasi belajar. Secara praktis adalah sebagai saran bagi lembaga pendidikan seperti Fakultas Keguruan untuk mengadakan pelatihan semacam itu untuk mahasiswanya sebagai calon guru masa depan. Karena tulisan ini rintisan, semoga dapat memberikan ilham bagi penulisan selanjutnya tentang Quantum Teaching.

bab 2

•August 12, 2009 • Leave a Comment

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Konsep Pelatihan
Menurut Ahmad (2006 : 17) pelatihan sering dikaitkan dengan pendidikan, dalam maksud pelaksanaan pelatihan dan pendidikan hampir sama, yang membedakannya adalah ruang lingkup kegiatannya.
Pelatihan menurut Suryana Sumantri (2005 : 14) dalam Ahmad (2006 : 19) adalah usaha dalam bentuk tertentu untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan, serta sikap dan perilaku sesuai dengan perubahan teknologi atau sesuai dengan tuntutan pekerjaan dan biasanya dilaksanakan dalam waktu relatif singkat.
Menurut Komaruddin ( 2002 : 51) dalam Ahmad (2006 : 19) pelatihan kadang disebut latihan adalah salah satu jenis proses belajar untuk memperoleh atau meningkatkan keterampilan di luar sistem pendidikan yang berlaku dalam waktu yang relatif singkat dan dengan metode yang lebih mengutamakan praktik dari pada teori.
Konsep dasar pelatihan dikemukakan oleh Omar Hamalik (2002 : 10-12) dalam Ahmad (2006 : 20) adalah sebagai berikut :
a. Pelatihan adalah suatu proses, artinya terarah untuk mencapai tujuan tertentu terkait dengan upaya pencapaian tujuan organisasi
b. Pelatihan dilaksanakan dengan sengaja
c. Pelatihan diberikan dalam bentuk pemberian bantuan
d. Sasaran pelatihan adalah unsur ketenagakerjaan
e. Pelatihan dilaksanakan oleh tenaga profesional
f. Pelatihan dilakukan dalam satuan waktu tertentu
g. Pelatihan meningkatkan kemampuan kerja peserta.

2.1.1 Tujuan dan Manfaat Pelatihan
Henry Simamora (2001 : 288-290) dalam Ahmad (2006 : 22) mengelompokkan tujuan pelatihan menjadi lima kelompok yaitu :
a. Memutakhirkan keahlian para karyawan sejalan dengan perubahan teknologi
b. Mengurangi waktu belajar bagi karyawan baru untuk menjadi kompeten dalam pekerjaan
c. Membantu memecahkan permasalahan operasional
d. Mempersiapkan karyawan untuk promosi
e. Mengorientasikan karyawan terhadap organisasi

Dalam tulisan ini tujuan dan manfaat tersebut bermakna sebagai berikut :
a. Memutakhirkan atau meningkatkan keterampilan guru-guru di SMP Negeri 1 Tanjung sejalan dengan perubahan teknologi, khususnya guru mata pelajaran Sains
b. Mengurangi waktu belajar bagi guru mata pelajaran untuk menjadi kompeten dalam mengajar yaitu mengajar dengan efektif dan lebih baik.
c. Membantu memecahkan permasalahan belajar mengajar di kelas, dari kelas bagus menjadi luar biasa.
d. Persiapan guru untuk promosi atau naik pangkat.
e. Mengorientasikan guru terhadap sekolah umumnya, dan kelas pada khususnya.

2.2 Teori Motivasi
Thomas M. Risk dalam Ahmad Rohani (2004 :11) memberikan pengertian motivasi sebagai berikut : motivasi adalah usaha yang disadari oleh pihak guru untuk menimbulkan motif-motif pada diri peserta didik yang menunjang kegiatan kearah tujuan-tujuan belajar.
Kemudian Prof. S. Nasution mengemukakan motivasi peserta didik adalah menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga peserta didik itu mau melakukan apa yang dapat dilakukannya.
Ahmad Rohani (2004 : 13) menjelaskan bahwa
ada dua kemungkinan bagi peserta didik yang memotivasi keterlibatannya dalam aktivitas belajar yaitu :
a) Karena motivasi yang timbul dari dalam dirinya sendiri
b) Karena motivasi yang timbul dari luar dirinya.
Kebutuhan keterlibatan dalam belajar mendorong timbulnya motivasi dari dalam dirinya, misalnya karena mereka memandang belajar itu bermanfaat bagi dirinya, tujuan seperti menambah pengetahuan, keterampilan, dll. Sedang yang dari luar, disebabkan karena ada hadiah penghargaan, menghindari celaan, dan ada pujian.

2.3 Gambaran umum Quantum Teaching
Sebagai model yang diadaptasi dari sebuah pelatihan, Quantum Teaching berisi hal-hal dibawah ini :
a. Selamat datang di dunia Quantum, berisi tentang asas utama : bawalah dunia mereka ke dunia kita dan lima prinsip Quantum Teaching, serta untuk pertama kalinya melihat kerangka rancangan belajar Quantum Teaching yaitu TANDUR
b. Orkestrasi Suasana merupakan bab pertama dalam bagian konteks yang menggali bahan-bahan yang diperlukan untuk suasana yang sehat dan menggairahkan untuk belajar seperti Niat, Jalinan, Keriangan dan Ketakjuban, Pengambilan risiko, Rasa saling memiliki, dan Keteladanan di Kelas.
c. Orkestrasi Landasan, mempelajari peran Tujuan, Prinsip, Keyakinan, Kesepakatan, Kebijakan Prosedur dan Pengaturan untuk mengorkestrasi konteks untuk belajar optimal. Disamping itu ada cara-cara untuk menjaga komunitas belajar agar tetap tumbuh, menciptakan kemitraan, dan memberikan visi tentang segala kemungkinan.
d. Orkestrasi Lingkungan adalah cara-cara memperbaiki pengajaran melalui musik, lingkungan sekitar dan penggunaan alat-alat Bantu, disamping tanaman, aroma, dan pengaturan bangku misalnya berbentuk huruf U.
e. Perancangan Pembelajaran merupakan perluasan asas utama, menekankan kebutuhan untuk meraih hak mengajar. Prinsip segalanya bertujuan disegarkan oleh modalitas VAK, multiple intelligence, dan model kesuksesan. Juga penjelasan lebih jauh tentang TANDUR.
f. Presentasi adalah bab kedua dalam bagian isi. Pencocokan modalitas, prinsip-prinsip komunikasi ampuh, dan tindakan non verbal yang ampuh dimasukkan kedalam pengajaran. Juga dilengkapi dengan 3 paket presentasi : penemu, pemimpin, dan pengarah.
Quantum identik dengan bidang eksakta. Secara harfiah artinya interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya. Bila diterapkan dalam pembelajaran interaksi ini mengubah kemampuan dan bakat alamiah siswa menjadi cahaya yang akan bermanfaat bagi orang lain. Menurut Bobbi DePorter (2005 : 3) Quantum Teaching adalah pembelajaran dengan menggabungkan unsur seni dan pencapaian tujuan belajar yang terarah agar mampu melejitkan prestasi siswa, juga menggubah menjadi meriah dengan segala suasananya.
Dari pengertian diatas, dapat dirumuskan bahwa Quantum Teaching mengandung unsur-unsur sebagai berikut :
a. Interaksi gabungan
b. Unsur seni
c. Pencapaian tujuan belajar
d. Pembelajaran meriah
e. Melejitkan prestasi
Dua unsur khusus yang membedakan Quantum Teaching dengan yang lain adalah adanya unsur seni dan melejitkan prestasi. Pada umumnya pembelajaran yang melejitkan prestasi adalah pembelajaran yang serius dan berat. Tetapi kombinasi antara unsur yang menyenangkan yaitu seni dan melejitkan prestasi siswa membuat Quantum Teaching menjadi metode belajar yang unik sekaligus menantang baik bagi guru maupun siswa.
2.3.1 Kata Kunci dalam Quantum Teaching
Bobbi (2005 : 5-6) menjelaskan kata kunci dalam Quantum Teaching adalah hal-hal berikut :
a. Quantum adalah orkestrasi bermacam-macam interaksi yang ada di dalam dan di sekitar momen belajar, interaksi ini mencakup unsur-unsur untuk belajar efektif yang mempengaruhi kesuksesan siswa
b. Pemercepatan belajar artinya menyingkirkan hambatan belajar yang menghalangi proses belajar alamiah dengan sengaja menggunakan musik, mewarnai lingkungan sekeliling, menyusun pengajaran yang sesuai, cara efektif penyajian, dan keterlibatan aktif
c. Fasilitasi adalah memudahkan segala hal, setelah menyingkirkan hambatan proses belajar, lalu mengembalikan kepada proses belajar yang mudah dan alami.

2.3.2 Asas Utama Quantum Teaching
Asas utama dalam Quantum Teaching menurut Bobbi (2005 : 6) adalah bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan antarkan dunia kita ke dunia mereka. Kata mereka merujuk pada siswa, dan kita adalah guru. Dengan kata lain, bawalah dunia siswa ke dunia guru, dan antarkan dunia guru ke dunia siswa. Artinya sebagai seorang guru harus memasuki dunia siswa terlebih dahulu, setelah memasuki dunia siswa, guru bisa menuntun dan memudahkan siswa menuju kesadaran dan ilmu pengetahuan yang lebih luas. Kombinasi antara pengalaman yang diperoleh dari dunia siswa dengan dunia guru yang lebih luas akan dibawa pulang oleh siswa dan menerapkannya dalam situasi baru.

2.3.3 Prinsip-prinsip dalam Quantum Teaching
Bobbi (2005 : 7-8) menjelaskan prinsip Quantum Teaching ada lima yaitu :
a. Segalanya berbicara. Lingkungan belajar, bahasa tubuh guru dan rancangan pembelajaran, semua menyampaikan pesan belajar
b. Segalanya bertujuan. Tidak ada yang sia-sia dalam setiap unsur pembelajaran
c. Pengalaman sebelum pemberian nama, artinya siswa mengalami atau mengetahui informasi tersebut
d. Akui setiap usaha. Belajar adalah kegiatan yang mengandung resiko, apabila siswa berani mengambil resiko tersebut, guru patut memberikan pengakuan
e. Jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan. Perayaan perlu diadakan setelah selesai pembelajaran agar emosi positif siswa dalam hal belajar meningkat.

2.3.4 Kerangka Belajar TANDUR
Bobbi menyatakan (2005 : 10, 88-89) kerangka belajar dalam Quantum Teaching disebut dengan TANDUR. Merupakan kependekan dari Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi, dan Rayakan. Lebih jauh mengenai TANDUR adalah sebagai berikut :
a. Tumbuhkan, yang ditumbuhkan adalah minat siswa dengan konsep AMBAK (Apa Manfaatnya BAgi Ku)
b. Alami, datangkan pengalaman umum dari materi yang dipelajari dengan contoh yang dimengerti oleh semua siswa dan dekat dengan pengalaman mereka
c. Namai, berupa pemberian kata kunci, konsep, model, rumus atau strategi dari materi
d. Demonstrasikan, guru menyediakan kesempatan kepada siswa bahwa mereka tahu mengenai materi yang dibahas
e. Ulangi, tunjukkan kepada siswa cara mengulang materi dan menegaskan bahwa siswa tahu kalau mereka mengetahui tentang materi yang dibahas
f. Rayakan, pengakuan dari penyelesaian, partisipasi, perolehan keterampilan dan pengetahuan siswa.

2.3.5 Modalitas Belajar VAK
Modalitas VAK menurut Bobbi (2005 : 84-85) adalah kependekan dari Visual-Auditorial-Kinestetik. Hal ini berhubungan dengan cara belajar siswa. Dalam satu kelas, kemampuan siswa dalam menyerap materi yang diajarkan berbeda dan memiliki cara belajar yang berbeda pula. Ada yang lebih menyerap materi dengan cara visual atau melihat, misalnya dengan membaca instruksi atau melihat diagram. Ada yang dengan cara auditorial atau mendengar, misalnya dengan meminta seseorang membacakan suatu cara kepadanya. Ada pula dengan cara kinestetik yaitu belajar dengan cara bergerak, menyentuh atau bekerja, misalnya dengan mengerjakan soal sendiri. Pembelajaran Quantum Teaching membolehkan siswanya untuk berjalan-jalan dan berbicara di kelas sepanjang sesuai dengan materi pelajaran yang dibahas.

2.4 Jenjang Sekolah di Indonesia
Ary H. Gunawan (1996 : 182) menyatakan berdasar tingkat atau jenjang sekolah, maka organisasi pendidikan formal di Indonesia tersusun dari tingkat bawah sampai atas yaitu TK, SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi.

2.5 Interaksi Edukatif
Umar Tirtarahardja dan La Sulo (2000 : 56) menjelaskan bahwa

interaksi edukatif antara peserta didik dengan pendidik pada dasarnya adalah komunikasi timbal balik antarpeserta didik dengan pendidik yang terarah kepada tujuan pendidikan. Pencapaian tujuan pendidikan secara optimal ditempuh melalui proses berkomunikasi intensif dengan memanipulasikan isi, metode, serta alat-alat pendidikan.

2.6 Inovasi Pendidikan

Hasbullah (2006 : 190-191) menjelaskan bahwa :
Inovasi adalah perubahan-perubahan yang terjadi pada aspek-aspek tertentu, dalam arti lebih sempit dan terbatas. Tujuan utama inovasi adalah berusaha meningkatkan kemampuan yakni kemampuan dari sumber-sumber tenaga, uang, sarana dan prasarana, termasuk struktur dan prosedur organisasi.

2.6.1 Masalah yang Menuntut Inovasi Pendidikan
Hasbullah (2006 : 201) menerangkan beberapa masalah yang menuntut inovasi salah satunya adalah menurunnya kualitas pendidikan.

2.6.2 Masalah yang Harus Dipecahkan Melalui Inovasi Pendidikan
Hasbullah (2006 : 201-202) menerangkan beberapa masalah yang harus dipecahkan melalui inovasi adalah sebagai berikut :
a) Kurang meratanya pelayanan pendidikan
b) Kurang serasinya kegiatan belajar dengan tujuan
c) Belum efisien dan ekonomisnya pendidikan
d) Belum efektif dan efisiennya sistem penyajian
e) Kurang lancar dan sempurnanya sistem informasi kebijakan
f) Kurang dihargainya unsur kebudayaan nasional
g) Belum kokohnya kesadaran, identitas, dan kebanggaan nasional
h) Belum tumbuhnya masyarakat yang gemar belajar
i) Belum tersebarnya paket pendidikan yang memikat, mudah dicerna, dan mudah diperoleh
j) Belum meluasnya kesempatan kerja.

Dalam pembahasan ini poin yang akan dibahas adalah mengenai poin d, yaitu belum efektif dan efisiennya sistem penyajian pembelajaran di kelas.

bab III gituw

•August 12, 2009 • Leave a Comment

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Metode Penelitian
Agar sebuah penelitian berjalan lancar, diperlukan metode untuk membahasnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Menurut Suharsimi (2005 : 250) mengemukakan bahwa dalam penelitian deskriptif, peneliti hanya bermaksud menggambarkan suatu permasalahan sesuai keadaan yang sebenarnya.
Jadi dalam penelitian deskriptif, penulis berusaha memberikan gambaran mengenai keadaan yang sebenarnya mengenai penerapan Quantum Teaching dalam motivasi belajar Sains siswa kelas VII A pada tahun 2007/2008.
Winarno dalam Abdul Hakim (1998 : 24) menambahkan penelitian deskriptif adalah penyelidikan yang tertuju pada pemecahan masalah-masalah yang ada pada masa sekarang atau memusatkan diri pada pemecahan masalah-masalah yang aktual, data-data yang dikumpulkan, disusun, dan kemudian dianalisa.
Menurut pendapat tersebut, selain memberikan gambaran dari keadaan objek juga mempelajari, mengenal, dan memahami pelaksanaan Quantum Teaching yang dilaksanakan di SMP Negeri 1 Tanjung, dalam hal ini diusahakan untuk memberikan gambaran dan pemecahan masalah yang ada.

3.2 Teknik Pengumpulan Data
Untuk mengumpulkan data dan segala informasi yang diperlukan dalam penelitian, maka digunakan teknik atau cara pengambilan data sebagai berikut :
a. Observasi, yaitu teknik pengumpulan data melalui pengamatan dan pencatatan langsung terhadap segala hal yang berkaitan dengan objek yang diteliti. Ada dua macam observasi yaitu observasi partisipasi aktif dan pasif, dalam penelitian ini digunakan observasi partisipasi pasif, dimana peneliti bertindak sebagai pengamat secara pasif di tengah-tengah aktivitas subjek di lokasi penelitian. Pengamatan dilakukan dengan membuat catatan mengenai hal yang diamati. Pedoman observasi adalah tahap-tahap proses belajar dengan Quantum Teaching di kelas dari pembukaan sampai penutup
b. Studi pustaka, yaitu teknik pengumpulan data dengan mempelajari dan menganalisa suatu sumber pustaka baik berupa buku, artikel, maupun penelitian sebelumnya.
c. Wawancara adalah teknik pengumpulan data dengan serangkaian tanya jawab dengan responden secara langsung dan tatap muka serta mencatat keterangan yang dikemukakan responden. Nasution dalam Ahmad (2006 : 74-75) mengungkapkan bahwa :
wawancara yang dilakukan dalam penelitian naturalistik sering bersifat terbuka dan tidak berstruktur. Ia tidak menggunakan tes standar atau instrumen lain yang telah diuji validitasnya, ia mengobservasi apa adanya dalam kenyataan. Ia mengajukan pertanyaan dalam wawancara menurut perkembangan wawancara itu secara wajar berdasarkan ucapan dan buah pikiran orang yang diwawancarai itu.

Dalam penelitian ini ada pedoman wawancara yang berisi hal-hal pokok yang ingin diteliti dan ditanyakan kepada responden, perkembangan pertanyaan wawancara sesuai dengan perkembangan jawaban dari responden.
d. Angket adalah serangkaian daftar pertanyaan mengenai suatu masalah atau bidang yang akan diteliti. Angket dalam penelitian ini disebarkan kepada seluruh siswa kelas VII A. Secara prosedurnya adalah gabungan antara angket langsung dan tidak langsung, karena selain menggali informasi mengenai diri responden, juga menggali data mengenai guru dan cara mengajar di kelas. Secara item-nya berupa angket isian, dan bentuknya merupakan gabungan dari angket terbuka dan tertutup.
e. Dokumentasi adalah menyalin data-data yang ada di daerah penelitian untuk memperoleh data mengenai jumlah guru di SMP Negeri 1 Tanjung, profil sekolah yang bersangkutan, pelatihan Quantum Teaching dan data lain yang relevan dengan penelitian.

3.3 Tahap-Tahap Pelaksanaan Penelitian
a. Tahap Orientasi, tahap ini dilakukan untuk menemukan informasi awal maupun mendapatkan sumber-sumber dan dokumen yang bisa dijadikan bahan dalam penelitian pada bulan Februari sampai Maret 2008, mengurus surat izin penelitian ke Dinas Pendidikan, Dinas Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat (KesBang LinMasy) dan PT. Adaro Indonesia sampai mendapatkan persetujuan dan izin melakukan penelitian dari lembaga yang bersangkutan memerlukan waktu dari bulan April-Juni 2008.
b. Tahap Eksplorasi, pada tahap ini pengumpulan data dimulai sesuai dengan fokus penelitian. Pengumpulan data dan informasi dilakukan dengan teknik wawancara, observasi, angket, studi pustaka, dan dokumentasi. Kegiatan ini dilakukan di Dahai office Community Development, SMP Negeri 1 Tanjung dan kelas VII A, serta Lembaga Pengembangan Potensi Pendidikan Adaro & Partner. Dilakukan pada bulan Juli. Wawancara dilakukan empat kali yaitu pada 4 dan 16 Juli 2008 di Kantor Community Development, Dahai tentang profil Community Development, dan tentang beasiswa dari Community Development juga sekalian melakukan studi pustaka dan dokumentasi. Kemudian pada 10 Juli 2008 di Lembaga Pengembangan Potensi Pendidikan Adaro & Partner tentang profil lembaga yang bersangkutan, kegiatan yang sudah dilakukan, perpustakaan keliling, disertai studi pustaka dan dokumentasi. Serta pada 21 Juli 2008 di SMP Negeri 1 Tanjung dengan guru mata pelajaran Sains yang bersangkutan. Observasi juga dilakukan pada 21 Juli 2008 di kelas VII A SMP Negeri 1 Tanjung. Angket juga disebarkan dan diisi pada tanggal 25 Juli 2008 oleh siswa-siswi Kelas VII A SMP Negeri 1 Tanjung, juga melakukan dokumentasi di tempat yang sama.
c. Tahap Pengolahan dan Analisis Data, Nasution (1996 : 29) dalam Ahmad (2006 : 80) mengungkapkan :
dalam penelitian kualitatif, analisa harus dilakukan sejak awal. Data yang diperoleh dari lapangan segera harus dituangkan dalam bentuk tulisan dan dianalisis. Macam-macam cara dapat diikuti. Tidak ada cara tertentu yang dapat dijadikan pegangan bagi semua penelitian.

Pengolahan data dilakukan setelah data didapatkan dari lapangan, apabila dirasakan ada kekurangan dilakukan wawancara lagi atau teknik pengumpul data yang lain. Data yang berupa jawaban dari pertanyaan wawancara, catatan observasi, dokumentasi, dan kepustakaan dibuat dalam bentuk tulisan, dipelajari dan ditelaah, apakah fokus pertanyaan sudah terjawab atau belum. Data angket ditulis dalam bentuk tabel frekuensi. Setelah proses ini selesai dilanjutkan dengan tahap triangulasi.
d. Tahap Triangulasi, pada tahap ini dilakukan pengecekan kesesuaian antara data-data yang didapatkan dari semua teknik, bila ada kekurangan atau kesalahan akan diadakan koreksi atau penambahan bila perlu. Dilakukan pada awal bulan Agustus 2008. Setelah melewati tahap ini baru dibuat dalam bentuk laporan tertulis dan sistematis.
e. Setelah dibuat dalam laporan tertulis dan sistematis, karena penelitian ini adalah salah satu syarat untuk meraih gelar Sarjana Pendidikan, selanjutnya di konsultasikan kepada dosen pembimbing I dan pembimbing II, kemudian dipertanggungjawabkan di hadapan Dewan Penguji Skripsi. Setelah pertanggungjawaban, diadakan perbaikan dan disahkan sekali lagi oleh Dewan Penguji Skripsi.

agak kacau bab 4nya hehehe

•August 12, 2009 • Leave a Comment

BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
4.1 Profil SMP Negeri 1 Tanjung
SMP Negeri 1 Tanjung beralamatkan di jl. Jend. Basuki Rahmat Kecamatan Tanjung, Kabupaten Tabalong. Terakreditasi B. Berdiri pada tahun 1958 dan mulai beroperasional tahun 1959. Tanah tempat didirikannya bangunan sekolah ini adalah milik pemerintah dengan luas 10. 451 meter persegi. Status bangunan juga milik pemerintah dengan luas seluruh bangunan 2.395 meter persegi. Kepala SMP Negeri 1 Tanjung pada saat ini adalah Abdu Rahim, S. Pd, S. Ag, M. Pd.
Sekolah ini memiliki fasilitas sebagai berikut :
a. Perpustakaan
b. Lab. IPA
c. Lab. Komputer
d. Ruang Keterampilan
e. Ruang Kesenian
f. Ruang OSIS
g. Ruang UKS
h. Lapangan Basket
i. Lapangan Upacara
Data siswa selama 4 tahun terakhir adalah sebagai berikut :
Tabel 1. Data siswa 4 tahun terakhir SMP Negeri 1 Tanjung
Tahun Ajaran Calon siswa baru Kelas I
Siswa Rombongan Belajar
2005/2006 220 org 170 6 rbl
2006/2007 257 org 176 6 rbl
2007/2008 350 org 200 6 rbl
2008/2009 368 org 206 7 rbl

Dari data di atas diketahui, terjadi peningkatan peminat calon siswa untuk mendaftar di sekolah ini, selain itu juga terjadi peningkatan jumlah siswa yang diterima. Tahun ajaran baru 2008/2009 menerima jumlah siswa terbanyak dari tiga tahun sebelumnya. Juga dalam hal rombongan belajar, tahun terakhir inilah yang mencatat pertambahan jumlah rombongan.
Visi sekolah ini adalah unggul dalam pencapaian prestasi berdasar iman dan takwa, serta misi sebagai berikut :
a. Melaksanakan pembelajaran dan bimbingan secara efektif
b. Mengkondisikan keunggulan secara intensif kepada warga sekolah
c. Mengkondisikan penghayatan terhadap ajaran agama yang dianut untuk menjadi sumber kearifan dalam bertindak.
Ekstrakurikuler yang ada di sekolah ini diantaranya adalah olahraga (bola kaki, badminton, basket, dan voli), seni (vokal dan menggambar), KIR (Karya Ilmiah Remaja), Karate, Tata busana (menjahit), baca tulis Al-Qur’an, dan English’s day.
Data guru SMP Negeri 1 Tanjung adalah sebagai berikut :
Tabel 2. Jumlah guru di SMP Negeri 1 Tanjung

Guru Pengajar /TU Jumlah
Laki-laki Perempuan
Guru PNS 8 org 24 org
Guru Bantu 2 org 6 org
TU PNS 1 org 1 org
TU Kontrak 1 org 2 org
TU Bantu 3 org 1 org

4.1.2 Profil Kelas VII A SMP Negeri 1 Tanjung
Berikut ini adalah data dari siswa kelas VII A tahun 2007/2008 dari teknik dokumentasi dan angket, diurut berdasarkan alpabet.
1. Adhitya Yudha Prawira : Jl. H. Badaruddin no. 24 RT. 1 Tanta Hulu
2. Asti Prativi : Jl. Flamboyan I no. 8 RT. 18 Mr. Pudak
3. Dwi Retno Ningtyas : Tanjung Selatan V RT. X Pembataan
4. Dwitiya Amanda Putri : Jl. Jend. Basuki Rahmat RT. XII A no. 67
5. Erni Anggrestiani : Jl. Puteri Zaleha
6. Filos Suphia : Jl. A. Yani RT. 07 no. 53 Jangkung
7. Gesta Lionanda : Ave Maria, Sulingan
8. Gst. M. Fikri Abdillah : Jl. Paramian RT. 6 no. 34 Pembataan
9. Iqbal Firdaus Salam : Jl. Basuki Rahmat
10. Kamaliatur Rohmah : Jl. Pertamina Gg Muhajirin RT. 07 RW. 03 Mabuun
11. M. Andri Yudha : Jl. Pahlawan RT.2
12. M. Faisal Hermawan : Jl. H. Badaruddin, Tanta Hulu
13. Maysuci Ardita Putri : Jl. PDAM RT. 4 Agung
14. Monalisa Dewi : Jl. Basuki Rahmat Desa Wayau RT. 8
15. Nadella Putri Ambareksa : Desa Laburan RT. 08 Bandara Warukin
16. Pandy Dwi Kurniawan : Komp. Mahligai Indah, jl. Mars Tanjung Selatan
17. Rahmatuz Zakiah : Jl. H. Badaruddin, Tanta Hulu
18. Refky Agusfianor : Jl. H. Badaruddin RT.05, Tanta Hulu
19. Rini Iriani : Desa Lukbayur RT. 11 no. 2
20. Saidatul Karimah : Jl. Jend. Basuki Rahmat
21. Shinta Deviana : Jl. Flamboyan 6 no. 109 RT. 18
22. Tias Widia Apriliyanti : Komp. BTD blok I no. 4 Mabuun
23. Winda Amalia Marsha : Jl. Jaksa Agung Suprapto RT. 14 no. 35 Tanjung
24. Wulan Lukita Arum : Jl. Basuki Rahmat

4.2 Contoh interaksi belajar Sains dengan Model Quantum Teaching (QT)
Interaksi belajar disini diterangkan sebagai interaksi dua arah antara guru dan siswa dimana siswa lebih aktif dan guru sebagai fasilitator dan pengarah dalam proses belajar. Contoh pembelajaran dengan menggunakan QT ini diobservasi pada tanggal 21 juli 2008 jam pelajaran ke-4 dan 5, prosedur belajar adalah sebagai berikut :
a. Pada awalnya, guru Sains memasuki kelas dan memotivasi siswa melalui menanyakan kabar siswa yang dijawab oleh siswa dengan gerakan dan yel-yel yang telah disepakati lebih dulu, yaitu siswa menjawab dengan Alhamdulillah, Sehat, Sukses. Apersepsi dilakukan dengan semacam kuis tentang pelajaran minggu lalu, yang mana pelajaran sebelumnya adalah Besaran Pokok sampai semua siswa mengingat tentang pelajaran yang lalu, dengan peraturan sebelum menjawab angkat tangan. Sampai tahap ini siswa mulai termotivasi dan bersemangat ditambah dengan tepuk tangan dengan kode merah (1 kali tepuk), kuning (2 kali tepuk), dan hijau (3 kali tepuk) sampai tepuk tangan benar-benar kompak yang menandakan siswa mulai berkonsentrasi.
b. Selanjutnya adalah membentuk kelompok dengan nama-nama sesuka siswa, setelah mendapatkan kelompok dan memberi nama tahap berikutnya adalah membuat yel-yel sesuai nama kelompok. Setelah itu guru mempersilahkan salah satu kelompok untuk menyanyikan yel-yelnya sedang yang lain menyimak. Setelah seluruh kelompok telah selesai memperdengarkan yel-yelnya, guru mempersilahkan untuk memilih kelompok mana yang dianggap yel-yelnya paling bagus. Kelompok yang dipilih oleh kelompok lain sebagai pemilik yel yang bagus akan mendapatkan 3 bintang, yang kolomnya dibuat oleh guru di papan tulis dengan format sebagai berikut :
No. Nama Kelompok Bintangku
1. Bintang
2. Matahari
3. Saturnus
4. Macan
5. Pelangi
6. Bulan

c. Tahap berikutnya adalah masuk kedalam materi melalui sebuah cerita yang akrab di telinga siswa atau pengalamannya, setelah itu guru menuntun siswa untuk menebak materi apakah yang sedang mereka bicarakan, dan kelompok yang berhasil menjawab mendapatkan bintang tambahan.
d. Setelah mengetahui materi yang dibahas, guru mempersilahkan siswa membaca materi kemudian mendengarkan penjelasan guru.
e. Kemudian menarik kesimpulan oleh siswa dibantu oleh guru, pada saat ini ada beberapa siswa yang sibuk sendiri, tetapi kemudian kembali fokus ketika mulai mencatat materi.
f. Penutup, pelajaran diakhiri dengan mengulangi materi yang baru saja dibahas, sebagai penutup guru mengajak siswa berhitung satu sampai lima dengan kombinasi jari, tepuk tangan berkode, dan yel-yel penutup aku tahu, aku mau, aku mampu sampai kompak.
Konsep TANDUR dalam pembelajaran adalah sebagai berikut :
a. Tanamkan, ada ketika guru mulai memikat motivasi siswa melalui prosedur pertama dan kedua
b. Alami, ketika guru menyampaikan cerita yang berhubungan dengan materi pembahasan (tentang sakit demam) disertai Tanya-jawab, bagaimana cara menurunkan panas, bagaimana cara mengukur panas karena sakit dan suhu normal badan, bagaimana bentuk alat ukur suhu badan, dll
c. Namai, ketika guru mengajak siswa untuk menebak materi yang dibahas dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam pola Alami
d. Demonstrasikan, guru mengembangkan pembahasan dengan bertanya pengalaman serupa kepada siswa dan cara mengatasinya. Siswa juga membaca materi dan mendengarkan penjelasan guru
e. Ulangi, guru dan siswa menarik kesimpulan tentang materi dan membuat catatan
f. Rayakan, pembelajaran diakhiri sesuai poin f atau 6
Modalitas VAK dari proses belajar yang diobservasi pada bahasan sebelumnya, diinterpretasi dalam hal-hal berikut :
a. Visual, ketika siswa membaca materi, soal, instruksi tertulis
b. Auditorial ketika siswa mendengarkan aba-aba guru, penjelasan guru tentang materi
c. Kinestetik ketika menjawab kuis, membentuk kelompok, menyanyikan yel-yel, mencatat, dan pada sesi perayaan.

4.3 Pendapat siswa tentang model Quantum Teaching
Sebelum mengetahui pendapat siswa mengenai model Quantum Teaching terlebih dahulu diuraikan data yang diperoleh dari angket. Berikut ini adalah data dari angket. Sampel penelitian adalah seluruh siswa kelas VII A tahun 2007/2008, yang berjumlah 24 orang. Dalam menjawab angket yang penulis berikan, responden diberikan kebebasan untuk menjawab, sehingga ada beberapa poin yang melebihi dari jumlah siswa yang sebenarnya.
4.3.1 Pelajaran Favorit Siswa Kelas VII A
Berikut ini adalah pelajaran-pelajaran yang banyak diminati oleh siswa-siswi kelas VII A pada tahun 2007/2008.
Tabel 3. Pelajaran Favorit siswa kelas VII A
Pelajaran Favorit Frekuensi
1. Agama 22
2. IPS 21
3. IPA 23
4. Matematika 13
5. Penjaskes 19
6. Muatan Lokal 18
7. Keterampilan 21

Pada tabel diatas, frekuensi dihitung sesuai dengan banyaknya siswa. Dari tabel 3, pelajaran yang mempunyai frekuensi yang tertinggi dan terendah masing-masing adalah IPA/Sains dengan 23 suara, dan Matematika dengan 13 suara. Persentasi siswa dihitung dengan rumus sebagai berikut :
PS = (S x 100) ÷ N
PS = Persentasi siswa
S = jumlah frekuensi suara siswa
N = total siswa keseluruhan
Contoh :
Diketahui : IPA/Sains : S = 23, N 24, Matematika : S = 13
Ditanyakan : berapa persentasi siswa yang menyukai pelajaran Sains dan Matematika?
Jawab :
PS = (S x 100) ÷ N
PS = Persentasi siswa
S = jumlah frekuensi suara siswa
N = total siswa keseluruhan
Contoh :
Diketahui : IPA/Sains : S = 23, N 24, Matematika : S = 13
Ditanyakan : berapa persentasi siswa yang menyukai pelajaran Sains dan Matematika?
Jawab :
PS = (S x 100) ÷ N
= (23 x 100) ÷ 24
= 2300 ÷ 24
= 95, 83 %.
PS = (S x 100) ÷ N
= (13 x 100) ÷ 24
= 1300 ÷ 24
Jadi persentasi siswa yang suka pelajaran Sains adalah 95, 83% dan Matematika adalah 54, 17%. Secara keseluruhan dengan rumus diatas, persentasi siswa untuk tabel 3 dapat dilihat dari tabel 4 sebagai berikut :
Tabel 4. Persentasi Pelajaran Favorit Siswa Kelas VII A
Mata pelajaran Persentasi suka Persentasi tdk suka Frek. Yang tdk suka
Agama 91, 67% 8, 33% 2
IPS 87, 5% 12, 5% 3
IPA 95, 83% 4, 17% 1
Matematika 54, 17% 45, 83% 11
Penjaskes 79, 17% 20, 83% 5
Muatan Lokal 75% 25% 6
Keterampilan 87, 5% 12, 5% 3

4.3.2 Guru Favorit Pilihan Siswa Kelas VII A
Setiap siswa mempunyai kriteria sendiri dalam menilai cara guru mengajar dan kenyamanan mereka dalam belajar. Berikut ini adalah guru-guru yang disukai oleh siswa dari cara mengajarnya :
Tabel 5. Guru Favorit Siswa Kelas VII A
Guru Favorit Frekuensi
1. Anikmah 5
2. Nurul Huda 6
3. Rita Noryati 3
4. Miranti 3
5. Khusnul Anwar 10
6. Maskanah 1
7. Widya 1
8. Ruhaida 2
9. Aida 2
10. Irina 1

Pada tabel 5, jumlah frekuensi yang ada adalah 34 suara dari 24 siswa. Hal ini terjadi karena penulis membebaskan siswa menjawab tanpa batas sesuai pertanyaan dan perasaannya. Dari tabel 5, guru yang meraih suara terbanyak adalah Khusnul Anwar dengan 10 suara. Dengan rumus yang sama dengan menghitung persentasi pada tabel 3, maka persentasi guru favorit dari cara mengajarnya menurut kelas VII A adalah sebagai berikut :
Tabel 6. Persentasi Guru Favorit dari Cara Mengajar
Nama guru Frek. suara Persentasi jml siswa Persentasi jml suara
Anikmah 5 20,83% 14,70%
Nurul Huda 6 25% 17,64%
Rita Noryati 3 12,5% 8,82%
Miranti 3 12,5% 8,82%
Khusnul Anwar 10 41,67% 29,41%
Maskanah 1 4,17% 2,94%
Widya 1 4,17% 2,94%
Ruhaida 2 8,33% 5,88%
Aida 2 8,33% 5,88%
Irina 1 4,17% 2,94%

Guru yang mengantongi 10 suara adalah trainer QT yang telah mengikuti ± 10 kali pelatihan dan melatih QT. Guru ini telah mengikuti pelatihan dari tahun 2005 (hasil wawancara, 21 Juli 2008). Proses belajar sains yang dibahas dalam penelitian ini diajarkan oleh guru ini. Tahun 2007/2008 adalah tahun pertama QT digunakan dalam pembelajaran. Menurut Khusnul Anwar, 90% materi pelajaran sains diajarkan dengan metode QT.

4.3.3 Guru yang Membuat Bersemangat Belajar
Berikut ini adalah pendapat siswa kelas VII A mengenai guru yang membuat mereka bersemangat dalam belajar.
Tabel 7 Guru Inspirator Siswa Kelas VII A
Guru Inspirator Belajar Frekuensi
1. Miranti 4
2. Nurul Huda 9
3. Khusnul Anwar 11
4. Anikmah 7
5. Rita Noryati 3
6. Ruhaida Santi 3
7. Aida 2
8. Nelly 1
9. Surati 1
10. Irina 1

Tabel 7, memiliki frekuensi 42 suara dari 24 siswa, karena ada siswa yang mengungkapkan 2-3 guru yang mampu menjadi inspirator belajar mereka. Pada poin ini Khusnul Anwar masih menjadi pemilik suara terbanyak yaitu 11 suara. Persentasi guru yang membuat siswa bersemangat belajar ini adalah sebagai berikut :
Tabel 8. Persentasi Guru Inspirator
Nama guru Frek. suara Persentasi jml suara Persentasi jml siswa
Miranti 4 9,52% 16,67%
Nurul Huda 9 21,42% 37,5%
Khusnul Anwar 11 26,19% 45,83%
Anikmah 7 16,67% 29,16%
Rita Noryati 3 7,14% 12,5%
Ruhaida Santi 3 7,14% 12,5%
Aida 2 4,76% 8,33%
Nelly 1 2,38% 4,17%
Surati 1 2,38% 4,17%
Irina 1 2,38% 4,17%

4.3.4 Pendapat mengenai Cara Mengajar Pak Khusnul Anwar
Dari 24 siswa, 20 orang menyatakan cara mengajar Pak Khusul Anwar bagus tanpa alasan tambahan, dan 4 orang diantaranya menyatakan bagus diiringi alasan. 20 orang menyatakan mereka dapat mengikuti cara mengajar tersebut dengan baik, 3 orang menyatakan kadang-kadang dapat mengikuti pembelajaran, dan 1 orang menyatakan dapat mengikuti pelajaran dengan alasan tambahan. 19 orang siswa mengaku senang dengan cara mengajar tersebut, 2 orang mengatakan biasa saja, dan satu orang mengaku senang dengan alasan tambahan.
Tabel 9. Cara mengajar Khusnul Anwar, S.Pd menurut siswa kelas VII A
No. Pendapat siswa F
1. Cara mengajarnya bagus 20
2. Cara mengajarnya bagus, tapi… 4
3. Dapat mengikuti dengan baik 20
4. Kadang-kadang 3
5. Dapat mengikuti, tapi…. 1
6. Perasaan menjadi senang 19
7. Biasa saja 2
8. Senang, walaupun … 3

Tabel 9 adalah pendapat tentang cara mengajar Khusnul Anwar, dalam hal ini adalah metode QT. Dari tabel 3-8 banyak suara cenderung memilih guru yang bersangkutan. Berikut ini adalah persentasi opini siswa tentang metode QT yang diterapkan oleh guru yang bersangkutan.
a). Tentang cara mengajarnya
83,33% siswa menyatakan cara mengajar Khusnul Anwar bagus
16,67% siswa yang menambahkan alasan pada opininya
b). Tentang kemampuan siswa mengikuti pembelajaran
83,33% siswa menyatakan dapat mengikuti proses belajar dengan baik
12,5% siswa menyatakan kadang-kadang dapat mengikuti proses belajar dengan baik
4,17% siswa menyatakan dapat mengikuti proses belajar ditambah kata ‘tapi…’
c). Tentang perasaan mereka dengan cara belajar tersebut
79,17% siswa menyatakan senang
8,33% menyatakan biasa saja
12,5% menyatakan senang, walaupun….
Namun secara keseluruhan QT dapat dikatakan berhasil diterapkan dalam tahap-tahap awal karena opini yang bersifat positif mempunyai 19-20 suara dari total 24 siswa, 2-3 suara bersifat menengah, dan 1-4 yang bersifat semi negatif, serta tidak ada yang benar-benar kesulitan mengikuti, membenci ataupun sedih ketika diajar dengan metode QT.

4.3.5 Guru yang baik menurut siswa kelas VII A
Berikut ini adalah pendapat siswa kelas VII A mengenai sosok guru yang baik.
1. Sabar dalam mengajar dan menghadapi muridnya
2. Tidak mudah marah, santai dalam belajar, dan tidak banyak mencatat
3. Guru yang disiplin dan tegas
4. Tidak sering marah, banyak menerangkan
5. Sabar dalam mengajar dan menghadapi murid, disiplin dan tegas
6. Perhatian dengan siswa
7. Ramah dan motivator
8. Mengajar dengan gembira
9. Ramah, tegas, tidak pemarah, bisa bercanda
10. Disiplin
11. Murah senyum, komunikatif, dan tidak acuh kepada siswa
12. Sabar, tidak mudah marah, bisa diajak bercanda
13. Baik, sabar, tegas
14. Sabar, pengertian
15. Tidak sombong, tidak pemarah, kreatif
16. Mengerti perasaan dan keinginan murid
17. Sabar dan mengerti keinginan murid
18. Penyabar, rajin, bisa menjelaskan dengan jelas, singkat, dan padat
19. Sopan, santun, menyenangkan, baik
20. Tidak pemarah, ramah, waktu mengajar tidak tegang, tidak membanding-bandingkan siswa
21. Bijaksana dan jelas dalam mengajar
22. Baik, sabar, tidak ringan tangan, mengerti keinginan siswa
23. Rajin, mengakhirkan pelajaran dengan pertanyaan atau permainan, membantu yang kurang jelas.
Hal-hal diatas adalah gambaran atau sosok guru yang diinginkan oleh tiap siswa kelas VII A, sub-sub poin yang dikemukakan oleh kelas VII A secara singkat dirangkum oleh Syaiful Bakri Djamarah sebagai berikut :
Dari penelitian Frend W. Hart ada 10 sikap yang disenangi siswa yaitu
a. Suka menolong pekerjaan sekolah dan menerangkan pelajaran dengan jelas dan mendalam serta contoh yang baik dalam mengajar
b. Periang dan gembira, memiliki perasaan humor dan suka menerima lelucon atas dirinya
c. Bersikap bersahabat
d. Menaruh perhatian pada muridnya
e. Berusaha agar mengajarnya menarik, dapat membangkitkan keinginan bekerjasama dengan siswa
f. Tegas, sanggup menguasai kelas dan membangkitkan rasa hormat pada siswa
g. Tidak pilih kasih
h. Tidak mengomel, mencela, dan sarkatis
i. Siswa merasa mendapatkan sesuatu dari guru
j. Dapat diteladani .
Penulis menuliskan hal tersebut agar dapat memberikan masukan kepada guru maupun calon guru untuk berintrospeksi diri dan bisa menampilkan sosok tersebut dalam mengajar di kelas, karena guru adalah pihak yang berpengaruh untuk kesuksesan siswa di sekolah. Untuk membangun generasi yang harus ditangani oleh guru yang memiliki keterampilan mengajar dan pembawaan yang dikategorikan siswa sebagai guru yang baik. Bersikap galak untuk membuat jarak dengan siswa sekarang ini dapat membuat keadaan atau percaya diri siswa berkurang yang mengakibatkan kepasifan belajar.

4.3.6 Belajar Yang Diinginkan Siswa Kelas VII A Terjadi Di Dalam Kelas
Belajar memang melibatkan interaksi guru dan siswa, namun kenyamanan belajar diperlukan siswa agar dapat memperoleh hasil maksimal dalam setiap prosesnya. Kejenuhan adalah hasil akhir perasaan atau respon siswa secara individu dalam menanggapi proses belajar yang tidak sesuai yang diharapkannya, yang akan menghasilkan perilaku yang tidak menyenangkan bagi guru atau rekan-rekannya yang lain dalam kelas. Berikut ini adalah proses belajar yang diinginkan oleh siswa kelas VII A terjadi di dalam kelas :
1. Belajar yang tidak terlalu serius, kadang diselingi dengan canda dan tawa
2. Belajar yang santai-santai saja dengan suasana yang sedang-sedang saja
3. Yang rame-rame, yang asik-asik
4. Belajar yang tidak terlalu menegangkan dan mengajarnya tidak terlalu cepat
5. Belajarnya santai, habis belajar ada permainannya
6. Selesai belajar ada game, belajarnya santai, tidak membuat ngantuk
7. Suasananya tertib dan diam
8. Belajar yang mengasyikkan, tidak membosankan, banyak cerita dan permainannya
9. Belajar sambil bermain
10. Belajar dengan tertib, damai, dan tidak terganggu orang lain
11. Belajar dengan santai dan menantang (ada soal untuk menambah nilai)
12. Belajar dengan serius tapi menyenangkan
13. Belajar yang tidak menegangkan, santai, ada permainan
14. Serius tapi santai
15. Belajar seperti pelajaran Pak Khusnul Anwar
16. Belajar yang menyenangkan
17. Menggunakan komputer
18. Belajar dengan komputer, penjelasannya dengan mind mapping (peta pikiran)
19. Belajar dengan santai, juga berkunjung ketempat-tempat yang bisa memberi informasi
20. Dengan cara yang tidak kaku dan tidak terlalu pakai otak kiri, ada gamenya
21. Dengan suasana yang sangat tenang
Demikian cara belajar yang diinginkan oleh siswa kelas VII A, dari total 24 siswa tidak semua opini dituliskan karena ada 3 angket mengenai pertanyaan belajar yang mereka inginkan ada dikelas yang jawabannya sama maksudnya dengan yang ada di atas. Sehingga cukup ditulis yang mewakili jawaban yang ada di angket tersebut.
Cara belajar yang diinginkan siswa kelas VII A yang dikemukakan oleh mereka melalui angket yang diberikan, mengisyaratkan bahwa sebagian dari mereka menginginkan proses belajar yang sebagaimana dituliskan pada poin 4.3.6, dari sebagian dari cara belajar yang ada, telah terangkum dalam pembelajaran dengan QT. Unsur seni dalam QT tidak hanya dengan memperdengarkan musik instrument, tetapi disesuaikan dengan keadaan sekolah dan kemampuan guru untuk menggali pembelajaran yang kreatif. Di SMP Negeri 1 Tanjung menggunakan yel-yel, tepuk tangan, permainan jari, dan cerita.
4.3.7 Pelatihan Sebagai Alat Inovasi Pendidikan
Agar guru-guru memiliki kompetensi, selain bisa menganalisa kesulitan belajar siswa dalam suatu tindakan kelas, ada baiknya seorang guru mengikuti kegiatan di luar jam sekolah dengan waktu yang relatif singkat agar dapat segera dibawa ke dalam kelas dan diajarkan kepada siswa tentang hal yang didapatkan di luar jam tersebut.
Dalam landasan teori yang telah dibahas pada bab II ada beberapa pengertian pelatihan yaitu dari Suryana Sumantri yang menjelaskan bahwa pelatihan adalah usaha dalam bentuk tertentu untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan serta sikap dan perilaku sesuai dengan perubahan teknologi atau sesuai tuntutan pekerjaan dan biasanya dilakukan dalam waktu singkat.
Dari pengertian diatas, pelatihan program QT adalah usaha dalam bentuk pendidikan luar sekolah untuk meningkatkan keterampilan mengajar dan pengetahuan guru tentang pendidikan yang lebih manusiawi tetapi berprestasi, serta sikap dan perilaku kearah itu sesuai tuntutan pendidikan atau sekolah dalam waktu 1-3 hari. Dengan kata lain, pelatihan guru adalah salah satu jenis proses belajar guru untuk meningkatkan keterampilan mengajar yang dilakukan di luar jam sekolah dalam waktu 1-3 hari dan ditutup dengan presentasi bersifat praktik mengajar kelompok kecil (microteaching).
Quantum Teaching (QT) adalah salah satu contoh pelatihan yang dilakukan oleh sebuah lembaga swasta yang disebut dengan Lembaga Pengembangan Potensi Pendidikan Adaro and Partner (LP3-AP) yang merupakan lembaga khusus dari Community Development (ComDev) PT. Adaro Indonesia yang bekerja sama dengan mitra kerjanya seperti PT. Pamapersada Nusantara, PT. Sapta Indra Sejati, PT. Rahman Abdi Jaya dan PT. Bukit Makmur Mandiri, serta PT. Saga Visi Paripurna sebagai konsultannya. ComDev sendiri bekerja dalam empat bidang kegiatan yaitu bidang ekonomi, kesehatan, sosial-budaya, dan pendidikan, karena bidang-bidang tersebut cukup esensial untuk mengembangkan masyarakat. Tanpa ekonomi yang kuat, masyarakat tidak akan mampu melakukan apa-apa (tidak produktif), tanpa badan yang sehat mustahil seseorang dapat bekerja dengan baik dan tanpa pendidikan yang pantas, sulit sekali menghasilkan produk yang layak jual, serta tanpa ketiga hal tersebut mustahil sosial-budaya bisa dibangun dan menghasilkan peradaban yang tinggi selaku manusia makhluk budaya.
ComDev PT. Adaro Indonesia bertujuan menciptakan tatanan masyarakat sekitar tambang yang mandiri ditopang dengan peningkatan ekonomi, sumber daya manusia, kesehatan, dan prasarana dan sarana sosial keagamaan. Tujuan jangka panjang dari program ini adalah terciptanya masyarakat mandiri secara ekonomi, intelektual, dan manajemen.
Sedangkan LP3-AP bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan formal di wilayah kerja PT. Adaro Indonesia dan PT. Pamapersada Nusantara dengan berbasis kepada kemandirian berkesinambungan, pengembangan sumber daya lokal, dan pemanfaatan teknologi terkini dengan orientasi global dan masa depan, dan cara yang mereka tempuh untuk mewujudkan tujuan tersebut adalah melalui program pelatihan.
Kembali ke masalah pelatihan, pelatihan yang dilakukan oleh LP3-AP sejalan dengan rumusan Omar Hamalik :
a. Pelatihan adalah proses mencapai pembelajaran yang menyenangkan dan melejitkan prestasi siswa, serta meningkatkan mutu guru khususnya dan sekolah pada umumnya
b. Dilaksanakan dengan sengaja dan terprogram oleh LP3-AP bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten dan Pemerintah Daerah yang bersangkutan
c. Sasaran pelatihan guru adalah guru sebagai unsur tenaga kerja bagi sekolah
d. Pelatihan dilaksanakan oleh trainer dari lembaga yang bersangkutan
e. Pelatihan dilakukan dalam waktu 1-3 hari
f. Guru yang menggunakan QT meningkat kemampuannya dan mendapat respon positif dari siswa.
Bila dikaitkan dengan tujuan pelatihan yang dirumuskan oleh Henry Simamora tujuan pelatihan QT diantaranya :
a. Memutakhirkan keahlian guru sejalan dengan perubahan teknologi dewasa ini yang tidak memungkinkan untuk meneruskan metode konvensional yang pasif
b. Mengurangi waktu belajar bagi guru mata pelajaran untuk menjadi kompeten dalam pekerjaan yaitu mengajar dengan efektif dan lebih baik.
c. Membantu memecahkan masalah dalam proses belajar di sekolah, dengan mengubah suasana belajar yang berbeda dengan sebelumnya yang akan membuat persepsi baru bagi siswa bahwa belajar tidak membosankan, sehingga sedikit demi sedikit perilaku mencontek dapat dikurangi pelan-pelan karena salah satu efek QT adalah membuat siswa merasa percaya dengan kemampuan dirinya,
d. Sebagai batu loncatan atau persiapan guru untuk promosi atau naik pangkat,
e. Selain itu juga mengorientasikan guru pada sekolah, khususnya kelas yang diajar agar dapat mencapai hasil belajar optimal.
Salah satu masalah yang ingin dipecahkan dengan inovasi pendidikan adalah belum efektif dan efisiennya sistem penyajian pengajaran, model Quantum Teaching (QT) bisa digunakan sebagai salah satu pilihan guru untuk mengefektif-efisienkan sistem pembelajaran mengingat QT adalah salah satu produk pelatihan yang diberikan kepada guru-guru salah satunya guru di SMP Negeri 1 Tanjung dan telah digunakan sejak tahun 1982 di SuperCamp oleh sekolah bisnis di Ohio, Amerika Serikat.
Kualitas pendidikan yang menurun akibat guru dan atau siswa kehilangan motivasi belajar dan mengajar bisa disegarkan dengan menyajikan pelajaran dengan model QT.
Organisasi pendidikan formal yang diteliti ini adalah tingkat sekolah menengah pertama. Secara khusus adalah SMP Negeri 1 Tanjung, Kabupaten Tabalong dengan kapasitas 6 kelas tiap tingkat. Keunikan sekolah ini adalah beberapa orang gurunya menggunakan metode belajar menyenangkan yaitu QT dalam proses belajar yang secara umum mewarnai cara mengajar, secara lebih khusus bila digunakan sebagai model pembelajaran pada proses belajar di kelas memberikan sensasi belajar yang lain dari biasanya.
Dari hasil angket yang telah dijawab oleh responden, pada pertanyaan guru favorit dan inspirator, nilai frekuensi tertinggi diperoleh oleh Khusnul Anwar yang dalam pelatihan QT mendapatkan nilai post test tertinggi, inilah alasan terpilihnya beliau untuk diteliti. Selain itu karena beliau yang mengajar Sains kelas VII A pada tahun 2007/2008 juga karena rekomendasi Kepala SMP Negeri 1 Tanjung.

4.3 Motivasi belajar Sains Kelas VII A SMP Negeri 1 Tanjung
Berdasarkan uraian sebelumnya, motivasi ketika siswa belajar di kelas dengan cara mengajar guru-guru yang berlainan ada dua motivasi yang membuat siswa bersemangat belajar, yaitu dari dalam dan dari luar diri siswa. Ketika siswa kelas VII A belajar Sains dengan model QT pada tahun 2007/2008 dengan yel-yel, game atau permainan dan bertepuk tangan dengan kode tertentu, motivasi belajar siswa lebih condong kepada motivasi dari luar. Mereka mengungkapkan hal-hal yang membuat mereka bersemangat dalam belajar, diantaranya adalah hal-hal berikut yang dikemukakan oleh siswa kelas VII A.
Tabel 10. Hal-hal Penyemangat Belajar Siswa Kelas VII A
Hal-hal yang Membuat Bersemangat Belajar Frekuensi
1. Proses Belajar 5
2. Ingin membahagiakan orangtua 4
3. Pembawaan guru 5
4. Diri sendiri 4
5. Rasa ingin tahu 1
6. Bisa menjawab soal dan memecahkan masalah 2
7. Ada permainannya 2
8. Pelajarannya 5
9. Teman-teman yang berprestasi 5

Dari tabel diatas, dikelompokkan menjadi dua kelompok besar motivasi menjadi sebagai berikut :
a. Motivasi dari dalam diri siswa berupa hal-hal berikut :
• Proses belajar
• Ingin membahagiakan orangtua
• Diri sendiri
• Rasa ingin tahu
• Bisa menjawab soal dan memecahkan masalah
• Pelajarannya
b. Motivasi dari luar diri siswa :
• Pembawaan guru
• Ada permainannya
• Teman-teman yang berprestasi
Dengan rumus yang sama dengan mencari persentasi pada bahasan sebelumnya, persentasi motivasi belajar dari dalam dan luar diri siswa dijelaskan dengan tabel berikut :
Tabel 11. Persentasi Motivasi dari Dalam Diri siswa
Motivasi dari dalam Frek. Persentasi suara
1. Proses belajar 5 15,15%
2. ingin membahagiakan orgtua 12,12%
3. diri sendiri 4 12,12%
4. rasa ingin tahu 1 3,03%
5. bisa menjawab soal dan memecahkan masalah 2 6,06%
6. pelajarannya 5 15,15%

Dari tabel diatas menunjukkan persentasi dan frekuensi motivasi belajar dari dalam. Dari 33 suara, 21 suara diantaranya adalah motivasi dari dalam. Sedang persentasi motivasi dari luar adalah sebagai berikut :
Tabel 12. Persentasi Motivasi Dari luar Diri siswa
Motivasi dari luar Frek. Persentasi suara
1. pembawaan guru 5 15,15%
2. ada permainannya 2 6,06%
3. teman-teman yang berprestasi 5 15,15%

12 suara dari 33 suara menyebutkan motivasi dari luar dirinya dalam mengikuti belajar. Dari uraian diatas terlihat bahwa ketika siswa belajar dengan model QT sebagian besar motivasi yang muncul untuk ikut berpartisipasi dalam pembelajaran berasal dari dalam diri siswa. Sehingga dapat dikatakan penggunaan model QT pada tahun 2007/2008 tidak terlalu berpengaruh pada motivasi belajar, karena pada tahun tersebut motivasi belajar siswa kelas VII A berada pada tahap pembangunan motivasi mengingat pada tahun 2007/2008 model ini baru dipakai di kelas VII.
Menurut hasil wawancara dengan Agus Surya (10 juli 2008) menyatakan bahwa kualitas hasil pelatihan tergantung pada kualitas input –dalam hal ini kualitas dan kemampuan awal peserta pelatihan guru- baik dalam program pelatihan QT maupun yang lainnya. Dengan kata lain, aplikasi QT di kelas tergantung pada kemampuan mengajar guru sebelumnya dan ditambah dengan QT dalam melakukan pembelajaran di kelas. Kemampuan guru sebelumnya disini adalah keterampilan dasar mengajar seperti yang tersebut di bawah ini :
a. Keterampilan bertanya
b. Keterampilan memberi penguatan
c. Keterampilan mengadakan variasi
d. Keterampilan menjelaskan
e. Keterampilan membuka dan menutup pelajaran
f. Keterampilan mengelola kelas
g. Keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil
h. Keterampilan mengajar kelompok kecil dan perseorangan

Bila guru yang bersangkutan menguasai kedelapan hal tersebut maka, penggunaan QT dalam pembelajaran dapat dilakukan lebih mudah. Dilihat dari kecenderungan para guru dalam menggunakan model-model pembelajaran yang telah ada sebelumnya dan seringnya penggunaan model QT dalam pembelajaran, guru dibagi dalam tiga kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok yang paling sering menggunakan QT tergolong kelompok cerdas. Kelompok kedua adalah kelompok menengah, dan kelompok ketiga umumnya sering kesulitan dalam mengaplikasikan atau tidak memakainya sama sekali bahkan kembali ke model lamanya mengajar sebelum mengikuti pelatihan.
Perbandingan ketiga kelompok ini adalah sekitar 80 : 50 : 20. Pada guru yang cerdas, penggunaan QT berkontribusi sekitar 80 persen pada kemampuan mengajar sebelumnya, guru menengah berkontribusi sekitar 50 persen, dan pada guru kurang cerdas berkontribusi sekitar 20 persen. Besar kontribusi penggunaan QT ini bergantung pada kemampuan mengajar dan kemauan pribadi guru untuk konsisten pada model QT.
Perbedaan QT dan model pembelajaran yang biasanya digunakan oleh guru dan atau mahasiswa praktik lapangan keguruan adalah bahasa penyampaian pesan belajar. Kadang kita, sebagai guru atau calon guru mengeluarkan kata-kata negatif dan kesan belajar yang susah dan tidak menyenangkan ketika mengajar atau memprediksi hasil akhir siswa sesuai dengan tindakan belajarnya tanpa mau menyadarkan siswa untuk berlaku semestinya dalam belajar, sehingga ketika momen-momen ujian nasional masing-masing dari kita memaksa diri untuk memaksimalkan belajar melalui les-les pada sore hari yang malah tidak efektif karena otak telah lelah.
Dalam QT, bahasa penyampaian pesan belajar dari pembuka hingga penutup menggunakan bahasa, kata-kata positif, efektif dan tepat sasaran seperti yang dimaksudkan guru seperti pembawa acara di televise, serta segala rancangan yang ada di kelas mengisyaratkan untuk belajar yang menyenangkan, pun juga ketika siswa salah menjawab. Sehingga siswa tidak kapok mengeluarkan pendapat dan tetap terus berpartisipasi dalam pembelajaran.
Seperti halnya sebuah pertandingan sepak bola yang dimainkan dengan sportif dan suasana positif didukung oleh pemain-pemain yang memiliki kemampuan dasar bermain secara individu dan tim tentunya akan mampu menciptakan gol-gol yang cantik, demikian juga dengan pembelajaran.

B. Temuan-Temuan
Berikut ini adalah temuan-temuan yang dapat dikumpulkan :
a. Sebagian besar siswa termotivasi dari dalam dirinya untuk ikut dalam pembelajaran Sains
b. Hanya 10 suara yang mengungkapkan trainer QT sebagai guru favorit
c. Pada tahun 2007/2008 QT berperan pada pembangunan proses belajar yang menjadikan siswa sebagai pusat pembelajaran.
d. Model QT harus didukung oleh kemampuan dasar mengajar yang baik dari seorang guru, agar pembelajaran dapat mencapai hasil maksimal.

this iz my trully Skripsi, hehehe!

•August 12, 2009 • Leave a Comment

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Quantum Teaching adalah gabungan dari berbagai teori pendidikan yang lebih dulu ada yaitu Accelerated Learning (Lozanov), Multiple Intelligence (Gardner), Neuro-Linguistic Programming (Grinder & Bandler), Experiential Learning (Hart), Socratic Inquiry, Cooperative Learning (Johnson & Johnson), dan Elements of Effective Instruction (Hunter). Dilaksanakan berdasarkan pengalaman selama 18 tahun dan penelitian lebih dari 25.000 siswa dan sinergi ratusan guru dari segala penjuru dunia, dan sekarang digunakan juga di SMP Negeri 1 Tanjung Kabupaten Tabalong dalam beberapa mata pelajaran diantaranya Sains.
Pendidikan di Kabupaten Tabalong umumnya dan SMP Negeri 1 Tanjung memiliki ciri unik yaitu menggunakan metode internasional yang dikenal dengan metode QT, sebuah metode belajar yang mencampurkan unsur seni dan pelejitan prestasi siswa dalam pembelajaran, menghasilkan cara belajar yang nyaman dan menyenangkan, serta menjadi guru yang efektif dan efisien.
Hal-hal yang dapat disimpulkan dari penjelasan dalam bab-bab terdahulu adalah sebagai berikut :
a. Contoh interaksi belajar dalam Quantum Teaching terangkum dalam rancangan belajar TANDUR yang membuat guru lebih berperan sebagai fasilitator atau pengarah dalam proses belajar, dan menjadikan siswa sebagai pusat pembelajaran yang aktif.
b. Pendapat siswa tentang model Quantum Teaching di kelas VII A mendapatkan respon positif karena penyampaian pesan belajarnya mengalir dan gampang dicerna oleh siswa
c. Dengan model Quantum Teaching yang memuat unsur permainan -yang kalau guru mampu- dapat merelaksasikan siswa dan menguatkan kesan belajar dan mampu menumbuhkan motivasi dari luar diri siswa kelas VII. Model Quantum Teaching bisa menjadi pilihan untuk mengajar siswa dengan gembira. Pada tahun 2007/2008 penerapan model Quantum Teaching dalam aspek motivasi menghasilkan pembangunan motivasi.
Untuk mengetahui apakah prestasi belajar siswa benar-benar meningkat dengan metode ini perlu penelitian lebih lanjut, yang semoga dapat diteliti oleh penulisan berikutnya tentang QT, amin.

5.2 Saran
Saran yang dapat dikemukakan disini adalah untuk pihak-pihak dibawah ini :
a. LP3-AP, bagaimana jika diadakan kegiatan semacam lomba mengajar atau festival QT silang sekolah antar guru atau trainer se-Kabupaten Tabalong yang memuat siswa kelas yang diajar sebagai juri tambahan
b. Sekolah, bagaimana jika sekolah menggunakan metode QT secara penuh dalam semua pembelajaran atau 75% diantaranya dalam waktu tertentu sebagai uji coba meningkatkan nilai dan pengembangan kualitas sekolah.
c. Lembaga Pendidikan Tinggi Keguruan (LPTK), agar dapat membuat mahasiswa keguruan memiliki kompetensi dalam metode baru ini sebagai salah satu bekal menjadi guru menyenangkan.
Daftar Pustaka
Abdul, Hakim. 1998. Sistem Perencanaan Unit Daerah Kerja Pembangunan (UDKP) Kecamatan Tanta Kabupaten Daerah Tingkat II Tabalong. Banjarmasin : Jurusan Administrasi Negara STIA Bina Banua

Ahmad. 2006. Model Perencanaan Program Pelatihan Pada Lembaga Pendidikan dan Pelatihan Ekonomi Syariah (Studi Deskriptif pada Program Pelatihan Kewirausahaan Promaag Mulia di LP2ES Daarut Tauhiid Bandung). Bandung : Jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan FIP UPI

Ary, H. Gunawan. 1996. Administrasi Sekolah, Administrasi Pendidikan Mikro. Jakarta : Rineka Cipta

Ahmad, Rohani, HM. 2004. Pengelolaan Pengajaran. Jakarta : Rineka Cipta

Berry, David. Paulus, Wirutomo (ed). 2003. Pokok-Pokok Pikiran Dalam Sosiologi. Jakarta : PT. Rajagrafindo Persada

Cholid, Narbuko. Abu, Ahmadi. 2003. Metodologi Penelitian. Jakarta : Bumi Aksara

DePorter, Bobbi. Reardon, Mark. Singer-Nourie, Sarah. 2008. Quantum Teaching, Mempraktikkan Quantum Learning di Ruang-ruang Kelas. Bandung : Kaifa

Dinna, Barada. 2008. Pandangan Masyarakat Petani Terhadap Pendidikan Anak di Kelurahan Gambut Kecamatan Gambut Kabupaten Banjar Tahun 2000-2005. Banjarmasin : Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Unlam

Dimyati. Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka Cipta

Husaini, Usman. Purnomo, Setiadi Akbar. 2003. Metodologi Penelitian Sosial. Jakarta : Bumi Aksara

Hasbullah. 2006. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta : PT Rajagrafindo Persada

Kuper, Adam. Kuper, Jessica. 2002. Ensiklopedia Ilmu-Ilmu Sosial, edisi kedua. Jakarta : PT. Rajagrafindo Persada

Masri, Singarimbun. Sofian, Effendi (ed). 1989. Metode Penelitian Survai. Jakarta : LP3ES

Panduan Praktik Pengalaman Lapangan Mahasiswa. FKIP. Banjarmasin : Universitas Lambung Mangkurat

S. Margono. 2000. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta

Soeparman. 1995. Pendidikan Nasional. Surabaya : PT. Bina Ilmu

Suharsimi, Arikunto. 2002. Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta : Rineka Cipta

Suharsimi, Arikunto. 2005. Manajemen Penelitian. Jakarta : Rineka Cipta

Sukardi. 2004. Metodologi Penelitian Pendidikan, Kompetensi dan Prakteknya. Jakarta : Bumi Aksara

Sutrisno, Hadi. 2004. Metodologi Research, jilid 2. Yogyakarta : Andi

Syaiful, Bakri Djamarah. 1994. Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru. Surabaya : Usaha Nasional

Veithzal, Rivai. 2004. Kepemimpinan dan Perilaku Organisasi. Jakarta : PT. Rajagrafindo

Wenger, Win. 2004. Beyond Teaching & Learning, Memadukan Quantum Teaching & Learning. Bandung : Nuansa

Yusuf, Wibisono. 2007. Membedah Konsep & Aplikasi CSR. Gresik : Fascho Publishing

mo publish cerpen

•March 11, 2009 • Leave a Comment

nanti q mo masukin cerpendi sini coz kuliah dah kelar juga.. biar ni web gak ada matinya… yehehehe… just mo nulis ini. ntar klo naskah q jadi buku, bisa za aq pamer lagi… ahahaha…

80 tahun sumPah pemudA

•October 28, 2008 • Leave a Comment

Sumpah pemuda dah berlalu 80 tahun yang lalu. bagi orang2 tetentu sih ni moment historial banget. katanya jaman tahun 1928 itu pemuda2 dari berbagai daerah kumpul en membuat sumpah untuk bersatu dibawah naungan bangsa indonesia. tapi gak tau pasti apakah sumpah itu antar mereka saja atau berlaku untuk seluruh anak cicit generasi berapa pun.

27 oktober 2008. di FKIP kampus dan almamater ‘tercinta’ kata some orang yang mengincar sesuatu didalamnya, hehe.. ada lomba paduan suara, tari n madihin di Sakadomas yang letaknya ditengah2 kelas didalam kampus. pas denger lagu2 yang dinyanyikan oleh temen2 PS, lagunya itu memuat kriteria mahasiswa yang das sollen atau ideal banget disana. yang kita lihat sehari2 dikampus gak gitu banget atau malah sebaliknya dari lagu tersebut. sadar atau gak lagu itu hanya jadi sekedar lagu yang dinyanyikan pada saat seremonial doang semacam yudisium ataupun wisuda.

banyak dari kita lebih senang melakukan persiapan perburuan untuk mendapatkan cinta pada lain jenis dari pada mempersiapkan diri untuk menjadi mahasiswa sejati secara intelektual. jika movitasi kuliah dirangkum menjadi 3 tujuan yaitu Cita, Citra, dan Cinta maka yang ada sekarang adalah motivasi ketigalah yang paling banyak dikejar. kampus sebagai lahan mencari pacar.

sering mungkin dialami, dikelas klo ujian atau ada tugas cara paling gampang nyelesaiinnya adalah dengan mencontek atau buka diktat. jarang ada tiap kelas yang riuh dengan adu argumentasi sebagian besar peserta kuliah tetapi senyap. hanya suara2 tertentu aja yang naik kepermukaan. sedang diluar kelas, gayanya necis2 sesuai derajat orang tuanya masing2. perutnya gendut2 karena begitu makmurnya Banjarmasin.

pembicaraannya pun seputar hal2 pacar, gosip di tv, rencana masa depan pasca sarjana, kesempatan sidang bagi yang menyelesaikan skripsi, bercanda, masalah proker dalam organisasi, lomba2 yang lagi diikuti… fiuuwww! kayaknya mereka lebih suka mengucapkan sumpah cinta mereka dari pada melanjutkan sumpah pemuda. bahkan ada yang lebih parah nih, masa tanggal 28 oktober dibilang hari pahlawan? calon guru gitu lohhh?

lalu bagaimana dengan sumpah pemuda? yang melegakan adalah belum ada disintegrasi kedua setelah Tim-tim.. good luck indonesia! selamat hari sumpah pemuda

peraturan FKIP yang barooouuuu!

•October 20, 2008 • Leave a Comment

FKIP adalah fakultas keguruan yang paling banyak punya mahasiswa, punya jurusan mandiri lumayan banyak, punya “pajak” yang paling banyak (dalam setiap urusan di bagian akademik ada fee-nya), n bla2.. dweeehhh.. baru2 ini, diluncurkan sejumlah peraturan yang sebenarnya sudah berjamur dalam buku katalog yang biasanya didapatkan oleh setiap mahasiswa baru yang mendaftar di FKIP.

bagi yang pernah baca panduan bagaimana mahasiswa Unlam yang diharapkan dalam buku tersebut akan muncul hal2, larangan semacam TIDAK BOLEH MENGGUNAKAN SELOP, KELOM, HIGH HEELS ketika perkuliahan, setara dengan penggunaan perhiasan di kampus.

back ke peraturan yang baru tadi, kamis kemarin tanggal 16 kira2, datanglah sepasukan peraturan yang sudah berbentuk lukisan yang siap dipajang di dinding yang akan ditempatkan ke dalam ruang kelas kuliah.

but, yang melatar belakangi tulisan ini dibuat adalah kerisauan yang mendalam akan kegunaan dari peraturan yang berpigura ria tadi. as we know, kemungkinan kesadaran mahasiswa untuk menaati sebuah peraturan sekarang adalah 25%, apalagi kampus menurut bayangan mereka adalah ladang untuk kebebasan berpakaian, lantai catwalk untuk pamer busana n body (bagi yang merasa semlohai), bukan sebagai tempat menimba ilmu selayaknya sekolah yang mana kita mesti tetap sopan berpakaian n bertindak.

selama belom ada sejenis SATPOL PP dikampus yang berpatroli n razia dengan serius bukan sekedar Tepe2 ma mahasiswa yang lain atau unjuk kekuasaan peraturan berpigura yang indah tidak akan terealisasi sesuai harapan, coz dengan kesadaran 25% dalam artian tidak mencapai 50%, susyaahhh deh rasanya berharap ada yang gak pake high heels yang dianggap lambang keseksian para cewek umumnya (parasanya z punk), ada di kampus FKIP, atau pakaian yang sekseh2, membentuk bodi atau yang kedodoran, model aneh, bla2..

jadi, sebelum peraturan itu terbit, mending ada pembentukan SATPOL PP ala FKIP yang bertugas untuk melakukan penindakan pada pelaku yang melakukan kesalahan dalam peraturan yang bersangkutan.

SO, KAPAN NEH KAMPUS BIKIN SATPOL PP NYA?  coz sama ae sia2 klo mun kaya itu z, jaka duitnya tu dipakai sagan mambarasihi kampus dari lumut2 ha, kesannya tu kada taurus kampus, talihat tuha barangnya… kampus maksudnya bu aiii… hehehe..

jar FKIP ndak berubah kearah yang lebih baik, gimana??

post baruu!

•October 14, 2008 • Leave a Comment

tarrrrraaaaaaaaaaaaaahh.. after lama ngilang aq balik lagi nih. tadinya blog ini di dedikasikan untuk tugas2 kuliah, but jaman ni q dah pensiun kuliahnya. mulai menuju ke jurus pamungkas yaitu SkRiPsI dengan 6 sks, hehehe.. jum’at ni rencana mo konsultasi ke bjb. sehubungan dengan ini format blog ini bakal di ganti jg dwoonk.  thanks to yang setia berkunjung kesini, tapi yang paling drasitis, alias drastis tuh yaa di ratnayuwinda.wordpress.com itu yang banyak isinya. kalo disini ya gtw deh.. tapi aq janji bakal lebih ngurusin blog ini juga. jangan lupa juga berkunjung ke fs q, di ryuwinda@yahoo.com

just mo said itu aja kok.. nanti q nulis lagi.. daahhh

produk gagal 1

•July 29, 2008 • 1 Comment

BAB I
PENDAHULUAN
PENGARUH PROGRAM QUANTUM TEACHING  DALAM USAHA PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN YANG DILAKSANAKAN OLEH LEMBAGA PENGEMBANGAN POTENSI PENDIDIKAN ADARO AND PARTNER (LP3AP) DI KABUPATEN TABALONG TAHUN 2007/2008
1.1 Latar Belakang
Izin kegiatan pertambangan dari pihak pemerintah Provinsi Kalimatan Selatan berupa kuasa penambangan (KP) atau PKP2B (Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara) yang bisa diperoleh dari Bupati wilayah setempat. Tetapi KP ini tidak berlaku bagi penambangan yang sifatnya tidak resmi atau ilegal dan akan diverifikasi sebagaimana yang diungkapkan oleh Kepala Dinas Pertambangan Provinsi Kalsel, Sukardi (Kompas, edisi November 2005)
…. pihaknya memperkirakan jumlah perizinan KP yang akan diverifikasi mencapai 300 buah.
Yang jelas, sasaran operasi tim ini adalah seluruh izin KP yang dikeluarkan para Bupati. Hasil verifikasi itulah yang menentukan izin-izin itu digunakan dengan benar atau tidak, ujarnya. Menurut Sukardi, verifikasi bertujuan untuk menertibkan penggunaan izin-izin yang tidak sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Jika ditemukan izin yang melanggar, maka Bupati bersangkutan akan memberikan teguran. Jika tiga kali teguran tak diindahkan, maka Bupati akan mencabut izin tersebut.

 Jadi, suatu kuasa pertambangan akan diberikan oleh pemerintah provinsi selama kegiatan pertambangan yang dilakukan bukan pada jalur tak resmi.
Dari pemerintah Kabupaten dasar penambangan dikutip dari artikel GALI-GALI Volume 4, Nomor 20, Januari 2002, dari hasil Studi Kasus Tambang Batubara di Kalimantan Selatan, 2001, mengungkapkan :
Pada tahun 1980, pemerintah mengundang secara terbatas dunia internasional untuk pengembangan potensi batubara di Kaltim dan Kalsel. Selanjutnya untuk memfasilitasi minat dari investor asing pemerintah mengeluarkan Keppres No. 49/1981 Tentang Kontrak Kerjasama Batubara. Dengan Keppres tersebut investor asing bisa melakukan kontrak kerjasama pengusahaan batubara dengan Pemegang Kuasa Pertambangan Batubara PT. Tambang Batubara Bukit Asam (PT BA).
Pada tahap ini, tercatat 11 perusahaan menandatangani Kontrak Kerja Sama dengan PT BA, yaitu PT Kendilo Coal, PT Kaltim Prima Coal, PT Kideco Jaya Agung, PT Berau Coal, PT Allied Indo Coal, PT Multi Harapan Utama, PT Tanito Harum, PT Indominco Mandiri, dan PT Chung Hua Mining Development, PT Adaro Indonesia , dan PT Arutmin Indonesia.
Setelah ramainya investasi asing (PMA) dibidang Batubara, pada tahun 1993 pemerintah mencabut Keppres No 49/1981 dengan Keppres No 21/1993. Keppres 21/1993 ini memungkinkan Perusahaan Swasta Nasional (PMDN) untuk terlibat dalam pengusahaan batubara nasional.

Segala sesuatu selalu memiliki dualisme, begitu juga dalam pertambangan, selain membawa dampak positif untuk perekonomian, juga membawa dampak negatif dalam hal gangguan lingkungan hidup dan sosial. Seperti beberapa hal yang diungkapkan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) tahun 2006 :
Masyarakat yang sebelumnya merasa dirugikan dan tidak mendapatkan keuntungan dari adanya eksploitasi pertambangan ini di beberapa daerah membuat portal-portal untuk melakukan pungutan bagi para penambang yang menggunakan jalan umum untuk anggkutan batubara. Portal atau pos pungutan tersebut ada yang dikelola oleh desa (melalui aparat desa atau kesepakatan kampung) dan ada juga yang dikelola oleh kelompok tertentu.  Tidak jarang hal ini menimbulkan konflik antara para sopir angkutan batubara dengan para penarik pungutan tersebut. Terjadinya pergeseran sosial dan budaya masyarakat.  Dulunya petani pemilik dan nelayan sekarang menjadi buruh pekerja di perusahaan. Pergeseran pola hidup yang lebih konsumtif, penggunaan narkotika dan minuman keras oleh para anak remaja dan adanya praktek prostitusi, dan lain sebagainya sebagai akibat dari adanya perusahaan pertambangan batubara yang telah mengabaikan hak, nilai-nilai dan budaya masyarakat lokal.
Lubang-lubang besar yang tidak mungkin ditutup kembali -apalagi dilakukan reklamasi- telah mengakibatkan terjadinya kubangan air dengan kandungan asam yang sangat tinggi. Hasil penelitian Bapedalda Tabalong (2001) menyebutkan bahwa air yang berada pada lubang bekas galian batubara tersebut mengandung beberapa unsur kimia, yaitu : Fe, Mn, SO4, Hg dan Pb.  Seperti kita ketahui Fe dan Mn bersifat racun bagi tanaman dan mengakibatkan tanaman tidak dapat berkembang dengan baik.  SO4 merupakan zat asam yang berpengaruh terhadap pH tanah dan tingkat kesuburan tanah.  Sedangkan Hg dan Pb adalah logam berat yang bisa menimbulkan penyakit kulit pada manusia.  Selain air kubangan, limbah yang dihasilkan dari proses pencucian juga mencemari tanah dan mematikan berbagai jenis tumbuhan yang hidup diatasnya.  

Menurut pusat infomasi LP3AP mengungkapkan bahwa :
PT. Adaro Indonesia (PT.AI) berdiri tahun 1982 sebagai hasil kerjasama antara Enadimsa (Spanyol) dengan Indonesia dengan saham 100 persen ditangan Enadimsa. Pada tahun 1987 saham yang ada ditangan Enadimsa berkurang sampai tahun 1992 saham disana menjadi nol (0) persen. Pada tahun 2003 sebagian besar saham tersebut sudah ada di tangan perusahaan Indonesia (PT. Dianlia) yaitu sebesar 51 persen.
Jadi keberadaan perusahaan ini adalah salah satu hasil dari politik pintu terbuka pada tahun 1870, yang kemudian dimatangkan oleh kebijakan terbukanya Indonesia untuk Penanaman Modal Asing (PMA), dengan adanya hal ini perusahaan-perusahaan mulai berkembang di Indonesia, termasuk di Kalimantan Selatan.
PT. AI adalah salah satu perusahaan yang bergerak di bidang penambangan batu bara yang ada di Kabupaten Tabalong. Perusahaan ini mengelola lokasi di dua wilayah Kabupaten, yaitu Kabupaten Tabalong dan Balangan , dan sebagai perusahaan tambang yang besar menyadari bahwa SDA yang diambil harus dapat memberikan manfaat kepada wilayah operasionalnya yakni salah satunya dengan mengkonversikannya kedalam peningkatan kualitas pendidikan .

Untuk meredam konflik yang terjadi akibat adanya kesenjangan sosial antara pihak penambang dengan masyarakat setempat, bahkan mengarahkan kepada terjadinya hubungan yang harmonis antara keduanya, dibentuklah sebuah program perusahaan yang diungkapkan oleh Ir. Abdurrahman dalam makalahnya (2008 : 1) :
Berdasarkan mandat Konferensi Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development) di Johannesburg tahun 2002 Afrika Selatan, telah dicanangkan sektor energi dan sumber daya mineral perlu memperhatikan dampak-dampak yang berkenaan dengan pengolahan energi dan sumberdaya mineral yang tidak dapat diperbaharui agar dicarikan alternatif berkelanjutannya agar masyarakat yang terkena dampak tersebut dapat terus menerus hidup mandiri tanpa bergantung pada sumberdaya yang akan habis tersebut.
 Atas pertimbangan tersebut, program community development merupakan solusi terbaik untuk meredam konflik, bahkan memberi arah bagi terjadinya hubungan yang harmonis antara masyarakat industri dan masyarakat setempat, program ini terus diperbaharui sesuai dengan dinamika yang berkembang di masyarakat. Tujuan program ini adalah pemberdayaan masyarakat agar anggota masyarakat dapat mengaktualisasikan dirinya dalam mengelola sumber daya yang ada disekitarnya guna memenuhi kebutuhan hidupnya secara mandiri tanpa ketergantungan pada pihak perusahaan maupun pemerintah.
Community Development (CD atau ComDev) adalah program perusahaan yang disusun berdasarkan karakteristik masyarakat dan wilayah.  Dalam pelaksanaannya, ComDev membawahi empat bidang yaitu bidang kesehatan, ekonomi, sosial budaya, dan pendidikan. Untuk bidang pendidikan dibentuk lagi sebuah lembaga khusus yang menangani pendidikan formal yang disebut dengan Lembaga Pengembangan Potensi Pendidikan Adaro & Partner (LP3AP). Lembaga inilah yang melakukan terobosan dalam bidang pendidikan dalam rangka perpanjangan tangan dari pihak-pihak terkait khususnya di Kabupaten Tabalong dengan program-programnya, salah satunya adalah program quantum teaching ini untuk membantu peningkatan kualitas pembelajaran.
Ketertarikan akan masalah ini adalah adanya rasa bangga dapat merekam kemajuan pendidikan di suatu daerah, apalagi daerah asal sendiri dalam suatu penjelasan deskriptif dan tertulis, karena yang ada sekarang ini sebagian besar adalah tulisan-tulisan mengenai pendidikan di luar daerah seperti halnya di pulau Jawa yang menyebabkan kurangnya pengetahuan pelajar dan insan pendidikan mengenai kemajuan pendidikan yang ada di daerah sendiri.
1.2 Rumusan Masalah
Bertolak dari latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan menjadi rumusan masalah. Pengertian masalah itu sendiri dikemukakan oleh Muhammad Hatta (1970 : 10) dalam Abdul Hakim (1998 : 9) sebagai berikut ;
Masalah adalah kejadian yang menimbulkan pertanyaan dalam hati kita tentang kedudukannya, kita tidak puas dengan melihat saja melainkan kita ingin mengetahui lebih dalam.
Dari pendapat tersebut, masalah adalah keadaan atau peristiwa yang menimbulkan pertanyaan dihati kita tentang kedudukannya, dan pertanyaan inilah yang menggerakkan seseorang untuk memecahkannya. Rumusan masalah yang dibahas dalam tulisan ini adalah bagaimana peran PT. AI dalam membantu meningkatkan mutu pendidikan di Kabupaten Tabalong pada tahun 2007/2008?
 Rumusan masalah tersebut akan dipecah lagi dalam pertanyaan berikut :
a. Apakah yang dimaksud dengan quantum teaching?
b. Bagaimana penerapannya dalam usaha peningkatan kualitas pendidikan di Kabupaten Tabalong?
c. Pengaruh apa saja yang ditimbulkan oleh quantum teaching yang diadakan oleh LP3AP selama tahun ajaran 2007/2008 di Kabupaten Tabalong?
1.3 Definisi Operasional
Agar tidak terjadi penafsiran yang ganda dalam membaca tulisan ini berikut definisi operasional yang ada dalam tulisan ini :
- Quantum teaching adalah salah satu bagian dari program peningkatan mutu (upgrading) guru yang dilakukan oleh LP3AP sebagai realisasi dari program ComDev bidang pendidikan PT. AI
- Guru adalah orang yang melakukan pengajaran dan pendidikan di sekolah, menurut anak ciremai dalam makalahnya menyatakan bahwa :
…  tugas guru tidak ada “mengajar”, tetapi juga “mendidik”.maka untuk melakukan tugas sebagai guru, tidak sembarangan orang dapat menjalankannya.sebagai guru yang baik harus memiliki syarat-syarat yang di dalam undang-undang No 12 tahun 1945 tentang dasar-dasar pendidikan dan pengajaran di sekolah untuk seluruh Indonesia, pada pasal 15.
- Program adalah susunan acara yang sistematis, terperinci dan mempunyai tujuan tertentu, serta mengandung satu pokok masalah
- PT. AI adalah kependekan dari PT. Adaro Indonesia, sebuah perusahaan tambang yang besar yang berlokasi di Dahai, Kabupaten Balangan. Perusahaan ini mengelola lokasi pertambangan di wilayah Tutupan, Kelanis, dan Dahai, serta memulai eksplorasi penambangan sejak tahun 1994.
- Community Development bidang pendidikan adalah program pengembangan masyarakat dari perusahaan PT. AI dalam rangka membantu pemerintah mengembangkan bidang pendidikan.
- Lembaga Pengembangan Potensi Pendidikan Adaro & Partner (LP3AP) adalah lembaga khusus yang menangani bidang pendidikan formal dari program ComDev bidang pendidikan, termasuk didalamnya peningkatan kualitas pendidikan dan kualitas pembelajaran khususnya.
- Kabupaten Tabalong adalah lokasi diadakannya penelitian ini. Dilihat dari letaknya dalam peta wilayah Kalimantan Selatan terletak di bagian utara.
1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah
- Mendeskripsikan hal-hal yang dilakukan PT. AI untuk membantu meningkatkan mutu pendidikan di Kabupaten Tabalong
- Mendeskripsikan perubahan cara mengajar guru setelah mengikuti program quantum teaching yang dilaksanakan oleh LP3AP
- Membuktikan bahwa pihak swasta dalam hal ini perusahaan tambang tidak selalu bermuatan negatif, tetapi memiliki andil untuk membantu meningkatkan mutu pendidikan di Kabupaten Tabalong
Manfaat dari penelitian ini antara lain dapat memperkaya Perpustakaan Daerah, Perpustakaan Provinsi, Perpustakaan Perguruan Tinggi, memperkaya pengetahuan insan pelajar dan masyarakat umum tentang perkembangan pendidikan lokal, untuk feed back atau umpan balik bagi ComDev bidang Pendidikan dan LP3AP sendiri tentang aktivitasnya, dan yang terakhir semoga dapat memberikan ilham bagi penulisan berikutnya dengan perusahaan yang berbeda
1.5 Batasan Masalah
Dalam tulisan ini pembahasan dibatasi oleh hal-hal berikut ;
- Objek penelitian dalam tulisan ini adalah LP3AP
- Waktu penelitian adalah tahun 2007/2008 dengan pertimbangan LP3AP berdiri pada triwulan IV tahun 2005, setelah berjalan selama satu tahun tentunya ada program yang telah menampakkan hasil sehingga bisa diukur sejauh mana program tersebut efektif untuk membantu meningkatkan kualitas pembelajaran di Kabupaten Tabalong
- Tempat penelitian dikhususkan di Kabupaten Tabalong Provinsi Kalimantan Selatan
- Pokok permasalahan yang menjadi bahasan adalah mengenai Quantum Teaching (QT).
BAB II
LANDASAN TEORI
PENGARUH PROGRAM QUANTUM TEACHING  DALAM USAHA PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN YANG DILAKSANAKAN OLEH LEMBAGA PENGEMBANGAN POTENSI PENDIDIKAN ADARO AND PARTNER (LP3AP) DI KABUPATEN TABALONG TAHUN 2007/2008

1. Pengertian Community Development (ComDev)
a. Menurut Arief  Budimanta dalam Ir. Abdurrahman (2008 : 1)
…. community development adalah kegiatan pengembangan masyarakat yang dilakukan secara sistematis, terencana, dan diarahkan untuk memperbesar akses masyarakat guna mencapai kondisi sosial ekonomi dan kualitas kehidupan yang lebih baik.
b. Menurut Yusuf  Wibisono (2007 : 125-126)
… Corporate Social Responsibility (CSR) dipraktikkan di tiga area, yaitu di tempat kerja implementasinya menyangkut kesehatan dan keselamatan kerja, pengembangan knowlegde dan skill karyawan, peningkatan kesejahteraan dan bahkan mungkin kepemilikan saham. Kedua, di komunitas berupa kontribusi dalam bentuk charity (kasih sayang), philanthropy (kedermawanan) maupun community development (pengembangan masyarakat). Ketiga, terhadap lingkungan, praktiknya berupa proses produksi dan produk yang ramah lingkungan, ikut serta dalam upaya pelestarian lingkungan hidup dsb. 
c. Menurut Rudi Saprudin Darwis (2008) pengertian ComDev dapat disamakan dengan  locality development :
Untuk keperluan praktis, dapat dikemukakan bahwa dalam ilmu sosial banyak terdapat istilah-istilah yang berbeda dengan pengertian yang sama. Istilah pengembangan masyarakat sesungguhnya bersumber pada istilah community development, yang kemudian oleh Jack Rothman (1979), disamakan pula dengan locality development. Dengan demikian jika dalam tulisan ini disebutkan ke tiga istilah tersebut, sesungguhnya pengertiannya sama.
Pengembangan masyarakat didefinisikan sebagai ”sebuah model pengembangan masyarakat yang menekankan pada partisipasi penuh seluruh warga masyarakat”. PBB (1955) mendefinisikan pengembangan masyarakat sebagai
”Pengembangan masyarakat didefinisikan sebagai suatu proses yang dirancang untuk menciptakan kemajuan kondisi ekonomi dan sosial bagi seluruh warga masyarakat dengan partisipasi aktif dan sejauh mungkin menumbuhkan prakarsa masyarakat itu sendiri”.
Tropman, dkk (1993) mengemukakan, bahwa :
” …locality development merupakan suatu cara untuk memperkuat warga masyarakat dan untuk mendidik mereka melalui pengalaman yang terarah agar mampu melakukan kegiatan berdasarkan kemampuan  sendiri  untuk meningkatkan kualitas kehidupan mereka sendiri pula”.

2. Ruang lingkup ComDev
Menurut Ir. Abdurrahman (2008 : 2) dapat dibagi menjadi  :
- Community service adalah kegiatan pelayanan yang bertujuan untuk memenuhi kepentingan masyarakat
- Community empowering adalah kegiatan yang berkaitan dengan pemberian akses masyarakat agar dapat meningkatkan kemampuan dirinya untuk mandiri
- Community relation adalah kegiatan yang berkaitan dengan menjalin pola hubungan yang harmonis dengan masyarakat
3. Bidang pengembangan dalam ComDev
Menurut Ir. Abdurrahman (2008 : 6) ada empat bidang pengembangan yaitu ;
- bidang ekonomi,
- bidang pendidikan,
- bidang kesehatan, dan
- bidang sosial budaya
Dalam bidang pendidikan salah satu kegiatannya adalah peningkatan mutu atau kualitas guru yang dilakukan oleh lembaga khusus yang dinamakan LP3AP.
4. Pelaku pengembangan masyarakat 
Menurut Rudi Saprudin Darwis (2008) pelaku pengembangan masyarakat ada 4 unsur yaitu :
- Pemerintah
Pemerintah merupakan pihak yang paling bertanggung jawab dalam upaya mensejahterakan masyarakatnya. Oleh karena itu, pemerintah memiliki porsi yang paling besar dalam pengembangan masyarakat.
- Organisasi
Organisasi yang terlibat dalam pengembangan masyarakat adalah organisasi yang turut menyelenggarakan pengembangan masyarakat atau menjadi pelaksana pengembangan masyarakat.
- Masyarakat
Dalam pendekatan pengembangan masyarakat, masyarakat sebagai sasaran meliliki kedudukan yang sangat strategis. Masyarakat tidak lagi dipandang sebagai obyek kegiatan yang hanya akan menerima hasil kegiatan pengembangan masyarakat, melainkan sebagai pihak yang harus turut menentukan dalam kegiatan tersebut.
- Agen perubahan pada umumnya memiliki kesadaran yang cukup tinggi dan kepedulian yang sangat besar terhadap pengembangan masyarakat. Istilah pelaksana / agen perubahan lebih sering digantikan dengan community organizer atau CD worker.
5. Landasan berdirinya pengembangan masyarakat
Menurut Ir. Abdurrahman (2008 :1) landasan berdirinya pengembangan masyarakat atau ComDev adalah :
Berdasarkan mandat Konferensi Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development) di Johannesburg tahun 2002 Afrika Selatan, telah dicanangkan sektor energi dan sumber daya mineral perlu memperhatikan dampak-dampak yang berkenaan dengan pengolahan energi dan sumberdaya mineral yang tidak dapat diperbaharui agar dicarikan alternatif berkelanjutannya agar masyarakat yang terkena dampak tersebut dapat terus menerus hidup mandiri tanpa bergantung pada sumberdaya yang akan habis tersebut.
Atas pertimbangan tersebut, program community development merupakan solusi terbaik untuk meredam konflik, bahkan memberi arah bagi terjadinya hubungan yang harmonis antara masyarakat industri dan masyarakat setempat, program ini terus diperbaharui sesuai dengan dinamika yang berkembang di masyarakat.
6. Pengertian  quantum teaching
Menurut DePorter, Reardon, dan Singer-Nourie (2005 : 5)
Quantum adalah interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya, dengan demikian quantum teaching adalah orkestrasi bermacam-macam interaksi yang ada didalam dan disekitar momen belajar. Interaksi ini mengubah kemampuan dan bakat alamiah siswa menjadi cahaya yang akan bermanfaat bagi orang lain.
7. Model quantum teaching
Menurut DePorter, Reardon, dan Singer-Nourie (2005 : 8)
Hampir sama dengan sebuah simponi, ada banyak unsur yang menjadi pengalaman musik anda. Unsur-unsur itu dibagi dalam dua kategori : konteks dan isi. Konteks adalah latar untuk pengalaman anda yaitu lingkungan, suasana, landasan, dan rancangan. Isi meliputi penyajian dan fasilitasi.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
PENGARUH PROGRAM QUANTUM TEACHING  DALAM USAHA PENINGKATAN KUALITAS PEMBELAJARAN YANG DILAKSANAKAN OLEH LEMBAGA PENGEMBANGAN POTENSI PENDIDIKAN ADARO AND PARTNER (LP3AP) DI KABUPATEN TABALONG TAHUN 2007/2008

3.1 Metode Penelitian
Agar sebuah penelitian berjalan lancar, diperlukan metode untuk membahasnya. Metode yang digunakan dalam penulisan ini adalah penelitian deskriptif. Menurut Suharsimi (2005 : 250) mengemukakan bahwa :
…. dalam penelitian deskriptif peneliti hanya bermaksud menggambarkan suatu permasalahan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya.
Jadi dalam penelitian deskriptif, penyusun berusaha memberikan gambaran mengenai keadaan yang sebenarnya mengenai pengaruh program QT guru yang dilaksanakan oleh LP3AP pada tahun 2007/2008. Menurut Winarno dalam Abdul Hakim (1998 : 24) penelitian deskriptif adalah :
… penyelidikan yang tertuju pada pemecahan masalah-masalah yang ada pada masa sekarang atau memusatkan diri pada pemecahan masalah-masalah yang aktual, data-data dikumpulkan, disusun, dan kemudian dianalisa.
Menurut pendapat diatas, selain memberikan gambaran mengenai keadaan yang sebenarnya, juga mempelajari, mengenal dan memahami pelaksanaan QT guru yang dilaksanakan oleh LP3AP, dalam hal ini diusahakan untuk memberikan gambaran dan pemecahan masalah aktual yang ada pada masa sekarang.
3.2 Teknik Penelitian
Untuk mengumpulkan data dan segala informasi yang diperlukan dalam penelitian,  maka akan digunakan teknik atau cara pengambilan data sebagai berikut :
a. Observasi, yaitu suatu teknik pengumpulan data melalui pengamatan dan pencatatan langsung terhadap segala hal yang berkaitan dengan obyek yang diteliti.
b. Studi kepustakaan, yaitu teknik pengumpulan data dengan mempelajari dan menganalisa suatu sumber pustaka baik berupa buku, buletin, makalah, artikel, laporan kegiatan, laporan realisasi, maupun penelitian yang sebelumnya.
c. Wawancara, yaitu teknik pengumpulan data dengan tanya jawab dengan responden secara langsung dan tatap muka serta mencatat keterangan yang dikemukakan oleh responden.
d. Dokumentasi, teknik ini dilakukan dengan menyalin data-data uyang sudah ada didaerah penelitian untuk memperoleh data mengenai program QT  untuk meningkatkan mutu guru dari kegiatan LP3AP, pengertian ComDev dan data lain yang berhubungan dengan pelaksanaan penelitian.
3.3 Objek Penelitian
Sesuai dengan permasalahannya, maka penyusun akan meneliti data tentang bagaimana peran PT. AI dalam membantu peningkatan mutu pendidikan di Kabupaten Tabalong serta pengaruh program QT  terhadap peningkatan kualitas pembelajaran.
3.4 Tahap-Tahap Pelaksanaan Penelitian
a. Koleksi data (pengumpulan data)
Pada tahap awal ini diadakan pengumpulan data, melalui sumber primer atau sumber sekunder. Selain mengumpulkan data seperti dokumen semacam laporan kegiatan atau laporan realisasi, juga berupa compact disk (cd) tentang lembaga terkait seperti LP3AP, ComDev, PT. AI, juga mengadakan wawancara kepada sekolah-sekolah yang beberapa gurunya pernah mengikuti pelatihan yang dimaksud.
b. Pemilahan data
Setelah data-data tersebut terkumpul, tahap berikutnya adalah memilah data yang mana saja yang akan dipakai dalam penulisan ini baik secara subtansi (isi) ataupun tahun ditulisnya data tersebut, dan yang tidak relevan akan dipisahkan.
c. Penafsiran data
Setelah dipilah-pilah, selanjutnya adalah menafsirkan data yang sesuai untuk penulisan ini, baik data dari hasil wawancara, observasi, studi pustaka, dokumentasi dengan kata-kata sendiri.
d. Penulisan dalam bentuk narasi deskriptif
Setelah ketiga proses diatas selesai, tahap selanjutnya adalah penuangan atau penulisan hasil penafsiran data yang telah dilakukan sebelumnya dalam bentuk narasi deskriptif.