Neoratnayuwinda

welcome in my 2nd time

huuuhh… parah!

agak hate juga deh ma yang judulnya MGMP yang itu. kayaknya aku gak pernah dapat kesempatan untuk bisa masuk kesana. entah cuaca yang gak dukung. kadang jam nya yang berubah seenaknya. kadang informasinya telat bangged. katanya sih disana lahannya basah banget. apa karena itu ya jadi rada ogah ngangkut orang baru?

sebenarnya aku gak minat juga dengan lahan basah itu. yang ku bawa2 dari kemarin adalah kaizennya siswa. perbaikan kecil tapi terus menerus. aku paling ogah berjuang diakhir kayak kebanyakan guru Indonesia yang membantu siswanya sampai kesempatan terakhir. dengan cara ikut ujian yang sama dengan siswa. bukannya sok gak solidaritas ma siswa sih, tapi itu namanya menjerumuskan.

orang paling oon pun senang dengan hasil kerjanya sendiri. jarang banget mau di katrol2. en kayaknya banyak rekan yang senang mendidiknya dengan gaya menyayangi model begitu.

en katanya juga demi mengejar lulus 100%. padahal normalnya ujian kan ada yang lulus ada yang enggak. klo semua lulus, gak ada gunanya donk istilah “gagal adalah sukses yang tertunda” berarti semua guru pada canggih2 semua ngajarnya. yang sulit tuh adalah pertanggung jawabannya. bisa aja sih ngasih nilai sesuai kemampuan dia. tapi orang pasti liat kalo mank dia gak mampu. at least penilaian yang ada itu ngukurnya lewat mana kan bingung lagi, padahal gurunya Sarjana semua, tapi menilai semua pukul rata. tentunya bagi yang kritis gelarnya bisa dipertanyakan lagi.

ujung2nya tadi, aku minta dikabarin minimal sehari sebelum mgmp. emang dikira gak ada kegiatan laen gitu, seenaknya ngerubah jadwal. gene2 juga punya jadwal lagi. yang pasti2 aja deh,, klo mank gak kompak biar soalnya q bikin sendiri. so gak “berharap lebih” deh…

Leave a comment »

Like teacher, like student!

pernah dengar gak sih ungkapan like father, like son? judul diatas bukanya ingin memplesetkan ungkapan itu, tapi memetakan sebuah kenyataan bahwa ternyata pembawaan dan kepribadian seorang guru juga berpengaruh pada diri siswa.

menjadi guru, merupakan posisi yang aman bagi sebagian banyak orang. karena liburnya mengikut jadwal libur siswa. bila dalam suatu wilayah dibuka lowongan menjadi guru, ada banyak orang yang melamar.

ada banyak pengembangan diri yang dilakukan oleh para guru. tapi kebanyakan dari sekian banyak itu, kadang guru2 merasa berat mengubah diri untuk menjadi yang lebih baik. utamanya guru2 yang udah “berusia banyak” dan jelang pensiun.

sepertinya statement dikepala mereka itu adalah “perubahan milik guru muda. kami yang tua ini biarlah seperti ini” sementara dilapangan yang paling banyak bersentuhan dengan siswa ya mereka yang sepuh2 itulah.

jadinya mikirnya gini deh, kayaknya yang bikin pendidikan statis gini, bukan salah siswanya doank deh, tapi karena guru2nya sebagian besar ogah berubah karena faktor Usia.

sehingga like teacher, like student laaaa ^^

somebody help?

Leave a comment »

what’s next?

apa yang ingin kamu lakukan 5 tahun kedepan?
apa yang ingin kamu lakukan 3 tahun mendatang?
2 tahun kedepan lo mau jadi apa?
tahun depan lo mau jadi siapa?

Pernah gak sih ditanya kayak gitu? en biasanya klo ditanya gitu, kadang otak kita langsung loading dulu, haho haho dulu ma jawab apa. secara dari zaman sekolah kita tuh jarang punya kesempatan untuk memetakan apa yang mo rencanakan. jangankan punya rencana kebayang aja mungkin enggak. dari zaman skul kebanyakan orang udah membuatkan blueprint hidup kita “secara aman” yaitu kuliah tinggi2 untuk memiliki ijazah en melamar kerjaan sebagai karyawan. sekali lagi just be Karyawan. mestinya sih klo punya ijazah tinggi bukannya jadi karyawan,, hehehe…

tapi kebanyakan orang merasa perlu jaminan aman, en itu hanya di dapat dari status karyawan.

cara paling gampang melihat masa depan kita saat jadi pegawai adalah dengan melihat apa yang terjadi pada pegawai yang paling lama bekerja di tempat kerja kita. itulah gambaran kasar masa depan kita, minimal beda tipis aja dengan beliau.

ketika teken kontrak diatas surat penerimaan, saat itulah kita menyerahkan total waktu produktif, tenaga produktif dan pikiran produktif kita pada pekerjaan itu, dan di gaji yang sudah ditentukan, yang hanya naik sedikit secara berkala. bukan ditentukan berapa kerasnya kita bekerja.

begitu pensiun, kita beserta keluarga hanya menikmati sisa2nya dari waktu, pikiran, dan tenaga serta gaji kita.

jika sudah siap dengan resiko itu, soo.. say welcome employee ^^

Leave a comment »

say hello

lama gak main ke web ini hampir bikin aku lupa sandi masuknya, untung aja dulu bikinnya dengan kata2 penuh cinta, jadi meskipun gak terekam dalam memori hp i still remember.
sekarang aku dah jadi teacher angkatan januari 2010, dengan cara yang indah, setengah dipaksa bekerja sesuai ijazah. bagi sebagian orang ini adalah suatu dream come true. sekolah 12 tahun, kuliah, lalu bekerja sesuai keahlian.
punya peralatan yang mendukung kerja, tinggal mencari pasangan hidup aja lagi,, katanya…
banyak orang beranggapan klo si cewenya PNS, minimal cowonya juga harus dari kasta yang sama. tapi aku sedikit trauma masa kecil, punya ortu sesama PNS malah bikin bete. ketemunya pas sore aja. masih pengen manja2 dipagi hari eh udah ditinggal. biar kata nangis sampai kepala cenut2 tetep aja gak datang2…

lagian co single PNS kan susah nyarinya. pasti aja udah ada yang ngapling duluan wkwkw…
trus nih ada juga yang bilang untuk mahar, in several place, ada yang sengaja masang tarif tinggi buat mempelai PNS. haha… dikira banyak duitnya kali ya, mancing orang korupsi aja.. wkwkwk… tabahkan aja hatimu PNS single.
padahal nih ya kalo emang mo mahar mahal mending minta ma saudagar aja. ini sama abdi negara, ya wajar aja klo negara sering banget di korupsi gara2 mutan-mutan yang suka naruh harga tinggi buat kawin.. (wish not)

oke deh,,, im so hungry right now… bubye…

Leave a comment »

thanks to all

Leave a comment »

email koeseong

hehehe… email dah kosong… ho333

Leave a comment »

huuummpppphhhhh

rekor neh… lama2 mejeng… hehehe… batal deh niatan mo bo2 siang… paling bis ne cm ngisi pulsa baru mandi… makannya jam barapa yaaa???

Leave a comment »

paket B yang arrrggghhhh….

fiuuwwwhhh… yang namanya TIM tentunya kompak lo biasanya. but, pada saat ini aku t masuk dalam tim super aneh… yang sama sekali gak cs an… kacau banget. sum time nih, q jadi kulinya mereka, but in other time, q jadi bos,,,, heran!
anehnya lagi tu, mereka tu gak transparan klo da kerjaan. okelah soal manipulasi it, tapi kan dalam soal lain bisa kompakan. ne nggak… sebel!!!!

Leave a comment »

this iz my ‘terpaksa berkhianat’ skripsi

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Undang-Undang no. 2 tentang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 1989 Bab I Pasal 1 ayat 1 menegaskan pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi perannya di masa yang akan datang.
Salah satu unsur dari pendidikan adalah guru atau pendidik yakni orang atau pihak yang menyelenggarakan kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan untuk masa depan peserta didik. Sedangkan sekolah adalah tempat interaksi peserta didik dan pendidik berlangsung dalam jenjang, waktu, dan materi tertentu setelah menyelesaikan persyaratan administrasi.
Ditinjau dari kedudukannya, guru memegang posisi yang penting dan berpengaruh bagi kelangsungan masa depan siswa, karena dari hasil interaksi dengan gurulah siswa dapat mengenali potensi yang ada pada dirinya baik secara akademis maupun sikap, yang mungkin dipertahankannya sampai pada masa-masa mendatang pendidikannya. Sehingga interaksi ini menjadi salah satu kajian yang tidak henti diteliti untuk mendapatkan formula yang tepat agar menghasilkan lulusan bermutu.
Agar dapat mewujudkan visi misi sebuah sekolah yang telah disusun, harus didukung oleh semua unsur yang ada di sekolah. Manajemen sekolah yang sistematis, guru-guru yang kompeten di bidang masing-masing, dan pelayanan sekolah yang ramah dapat membuat siswa senang berada di sekolah. Begitu siswa sampai di sekolah mereka membawa tuntutan dari rumah untuk mendapatkan nilai yang bagus, tetapi sebagian siswa ada yang dapat memenuhi hal tersebut secara alami, ada pula yang kesulitan sehingga direfleksikan dengan mengganggu kelas atau bersikap apatis terhadap apa yang diajarkan.
Keadaan yang semacam ini bisa menimbulkan frustasi bagi siswa maupun guru yang berakibat pada penurunan antusias, motivasi, rasa ingin tahu, keperdulian, atau keberanian yang diperlukan untuk belajar, apabila hal ini berlangsung terus menerus. Hal ini bisa menimbulkan kejenuhan dalam diri siswa yang akhirnya berakibat pada tidak tercapainya nilai yang diinginkan atau menempuh cara semacam mencontek dan lainnya, lalu mengeluarkan statement semacam ‘belajar itu susah atau membosankan’ padahal hanya melalui pendidikan manusia bisa dicetak untuk memenuhi kebutuhan pembangunan daerah dan nasional. Bisa dibayangkan bila hal itu terus terjadi dapat berakibat pada penurunan output, dalam hal ini nilai siswa.
Untuk memperbaikinya diperlukan sebuah inovasi dalam mengembalikan motivasi belajar siswa untuk belajar. Kenyataan yang terjadi di sekolah kita adalah terbatasnya guru dengan cara mengajar yang membuat semangat siswa menggebu-gebu dalam belajar, masih adanya guru killer yang menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian siswa untuk belajar, guru yang cara mengajarnya membosankan membuat siswa tertidur dalam belajar, tetapi menginginkan siswa memperhatikan pelajarannya. Dalam kasus ini, yang perlu dibenahi adalah interaksi guru dan siswa dalam kelas, guru selaku pemberi servis pendidikan perlu diberikan keterampilan baru yang sesuai dengan perkembangan teknologi.

Pembelajaran versi Quantum Teaching adalah pembelajaran yang menyenangkan dan meningkatkan prestasi siswa. Maksudnya adalah siswa yang sebelumnya apatis, tidak antusias, tidak termotivasi, tidak berhasrat ingin tahu, dan seperti tabularasa dibangkitkan semangatnya dengan mengubah pandangan guru bahwa siswa bukanlah pribadi yang kosong tetapi sudah mengetahui informasi, tetapi belum mengetahui lebih dalam sehingga guru membantu agar mereka memahami dan bisa menerapkan dalam kehidupannya. Dengan demikian beban mengajar guru berkurang dan bisa menikmati ‘rasa’ dari mengajar, dan siswa dapat menikmati bagaimana belajar seharusnya.

1.2 Batasan Masalah
Batasan masalah adalah hal-hal yang menjadi semacam patokan agar pembahasan tetap fokus yang tidak melebar kemana-mana. Dalam tulisan ini pembahasan dibatasi oleh hal-hal berikut :
a. Batasan objek penelitian, objek penelitian ini adalah model Quantum Teaching (QT) dalam pembelajaran Sains oleh Trainer QT dengan pertimbangan agar dapat melihat praktik model QT dengan lebih jelas, trainer yang ada di sekolah mengajar Sains, agar tidak terjadi halo effect dalam observasi, dan agar proses belajar berjalan sebagaimana biasanya mengingat penelitian ini bukan penelitian eksperimental.
b. Batasan waktu, tahun penelitian ini adalah tahun 2007/2008 dengan pertimbangan pembahasan akan lebih spesifik dan nilai yang terbaru, dan lembaga yang bersangkutan baru berdiri tahun 2005.
c. Batasan tempat, SMP Negeri 1 Tanjung kelas VII A karena tahun 2007/2008 adalah tahun pertama kelas VII A diajar dengan model Quantum Teaching, sehingga menarik perhatian untuk mengetahui penerapan Quantum Teaching di kelas ini. Pemilihan lokasi penelitian berdasarkan perkembangan data yang dapat dikumpulkan di lapangan.
d. Batasan masalah, pembahasan dikhususkan pada penerapan model Quantum Teaching sebagai salah satu bentuk inovasi pendidikan di kelas yang dihubungkan dengan motivasi dan interaksi belajar siswa serta pendapat mereka tentang model yang dipakai guru Sains mereka di kelas.

1.3 Rumusan Masalah
Bertolak dari latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan menjadi rumusan masalah. Pengertian masalah dalam tulisan ini didefinisikan oleh Muhammad Hatta (1970 : 10) dalam Abdul Hakim (1998 : 9) sebagai kejadian yang menimbulkan pertanyaan di hati kita tentang kedudukannya, kita tidak puas dengan melihat saja melainkan ingin mengetahui lebih dalam.
Dari pendapat tersebut, masalah adalah keadaan atau peristiwa yang menimbulkan pertanyaan dan pertanyaan itu mendorong untuk mengadakan penelitian. Fokus utama dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : Bagaimanakah penerapan model Quantum Teaching dalam pembelajaran Sains di kelas VII A pada tahun 2007/2008?
Secara lebih khusus, fokus penelitian tersebut dirumuskan menjadi pertanyaan penelitian sebagai berikut :
a. Bagaimana contoh interaksi belajar dalam model Quantum Teaching?
b. Bagaimana pendapat siswa kelas VII A SMP Negeri 1 Tanjung tentang model Quantum Teaching?
c. Bagaimana motivasi belajar siswa kelas VII A belajar dengan model Quantum Teaching?

1.4 Definisi Operasional
Agar tidak terjadi penafsiran yang ganda dalam membaca tulisan ini, maka penulis menganggap perlu mengungkapkan definisi operasional untuk menjelaskan beberapa istilah-istilah yang sering muncul dalam tulisan ini, yaitu :
a. Quantum Teaching adalah pembelajaran yang menggabungkan unsur seni dan pencapaian tujuan belajar yang terarah agar mampu melejitkan prestasi siswa, juga menggubah pembelajaran menjadi meriah dengan segala suasananya.
b. SMP Negeri 1 Tanjung adalah satu-satunya sekolah berbasis nasional di Kecamatan Tanjung dan memiliki trainer sendiri di sekolah.
c. Kelas VII A merupakan lokasi penelitian ini. Terdiri dari 24 siswa dari berbagai penjuru daerah sekitar kota Tanjung.
d. Motivasi belajar diartikan sebagai motif siswa untuk turut serta dalam kegiatan belajar mengajar baik secara ekstrinsik, maupun instrinsik.
e. Interaksi belajar diartikan sebagai komunikasi yang terjadi baik searah maupun dua arah antara pendidik dan peserta didik dalam situasi belajar mengajar.

1.5 Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan penelitian adalah hal-hal yang ingin dicapai dengan adanya penelitian ini, sedangkan manfaat adalah hal-hal yang menjadi kegunaan dari penelitian ini. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Mendeskripsikan penerapan Quantum Teaching sebagai salah satu bentuk inovasi pendidikan dalam proses mengajar khususnya tentang motivasi belajar siswa.
b. Mendeskripsikan tentang model Quantum Teaching untuk kelas VII
Manfaat penelitian itu secara teori adalah memberikan informasi mengenai penerapan model Quantum Teaching bagi motivasi belajar. Secara praktis adalah sebagai saran bagi lembaga pendidikan seperti Fakultas Keguruan untuk mengadakan pelatihan semacam itu untuk mahasiswanya sebagai calon guru masa depan. Karena tulisan ini rintisan, semoga dapat memberikan ilham bagi penulisan selanjutnya tentang Quantum Teaching.

1 Comment »

bab 2

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Konsep Pelatihan
Menurut Ahmad (2006 : 17) pelatihan sering dikaitkan dengan pendidikan, dalam maksud pelaksanaan pelatihan dan pendidikan hampir sama, yang membedakannya adalah ruang lingkup kegiatannya.
Pelatihan menurut Suryana Sumantri (2005 : 14) dalam Ahmad (2006 : 19) adalah usaha dalam bentuk tertentu untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan, serta sikap dan perilaku sesuai dengan perubahan teknologi atau sesuai dengan tuntutan pekerjaan dan biasanya dilaksanakan dalam waktu relatif singkat.
Menurut Komaruddin ( 2002 : 51) dalam Ahmad (2006 : 19) pelatihan kadang disebut latihan adalah salah satu jenis proses belajar untuk memperoleh atau meningkatkan keterampilan di luar sistem pendidikan yang berlaku dalam waktu yang relatif singkat dan dengan metode yang lebih mengutamakan praktik dari pada teori.
Konsep dasar pelatihan dikemukakan oleh Omar Hamalik (2002 : 10-12) dalam Ahmad (2006 : 20) adalah sebagai berikut :
a. Pelatihan adalah suatu proses, artinya terarah untuk mencapai tujuan tertentu terkait dengan upaya pencapaian tujuan organisasi
b. Pelatihan dilaksanakan dengan sengaja
c. Pelatihan diberikan dalam bentuk pemberian bantuan
d. Sasaran pelatihan adalah unsur ketenagakerjaan
e. Pelatihan dilaksanakan oleh tenaga profesional
f. Pelatihan dilakukan dalam satuan waktu tertentu
g. Pelatihan meningkatkan kemampuan kerja peserta.

2.1.1 Tujuan dan Manfaat Pelatihan
Henry Simamora (2001 : 288-290) dalam Ahmad (2006 : 22) mengelompokkan tujuan pelatihan menjadi lima kelompok yaitu :
a. Memutakhirkan keahlian para karyawan sejalan dengan perubahan teknologi
b. Mengurangi waktu belajar bagi karyawan baru untuk menjadi kompeten dalam pekerjaan
c. Membantu memecahkan permasalahan operasional
d. Mempersiapkan karyawan untuk promosi
e. Mengorientasikan karyawan terhadap organisasi

Dalam tulisan ini tujuan dan manfaat tersebut bermakna sebagai berikut :
a. Memutakhirkan atau meningkatkan keterampilan guru-guru di SMP Negeri 1 Tanjung sejalan dengan perubahan teknologi, khususnya guru mata pelajaran Sains
b. Mengurangi waktu belajar bagi guru mata pelajaran untuk menjadi kompeten dalam mengajar yaitu mengajar dengan efektif dan lebih baik.
c. Membantu memecahkan permasalahan belajar mengajar di kelas, dari kelas bagus menjadi luar biasa.
d. Persiapan guru untuk promosi atau naik pangkat.
e. Mengorientasikan guru terhadap sekolah umumnya, dan kelas pada khususnya.

2.2 Teori Motivasi
Thomas M. Risk dalam Ahmad Rohani (2004 :11) memberikan pengertian motivasi sebagai berikut : motivasi adalah usaha yang disadari oleh pihak guru untuk menimbulkan motif-motif pada diri peserta didik yang menunjang kegiatan kearah tujuan-tujuan belajar.
Kemudian Prof. S. Nasution mengemukakan motivasi peserta didik adalah menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga peserta didik itu mau melakukan apa yang dapat dilakukannya.
Ahmad Rohani (2004 : 13) menjelaskan bahwa
ada dua kemungkinan bagi peserta didik yang memotivasi keterlibatannya dalam aktivitas belajar yaitu :
a) Karena motivasi yang timbul dari dalam dirinya sendiri
b) Karena motivasi yang timbul dari luar dirinya.
Kebutuhan keterlibatan dalam belajar mendorong timbulnya motivasi dari dalam dirinya, misalnya karena mereka memandang belajar itu bermanfaat bagi dirinya, tujuan seperti menambah pengetahuan, keterampilan, dll. Sedang yang dari luar, disebabkan karena ada hadiah penghargaan, menghindari celaan, dan ada pujian.

2.3 Gambaran umum Quantum Teaching
Sebagai model yang diadaptasi dari sebuah pelatihan, Quantum Teaching berisi hal-hal dibawah ini :
a. Selamat datang di dunia Quantum, berisi tentang asas utama : bawalah dunia mereka ke dunia kita dan lima prinsip Quantum Teaching, serta untuk pertama kalinya melihat kerangka rancangan belajar Quantum Teaching yaitu TANDUR
b. Orkestrasi Suasana merupakan bab pertama dalam bagian konteks yang menggali bahan-bahan yang diperlukan untuk suasana yang sehat dan menggairahkan untuk belajar seperti Niat, Jalinan, Keriangan dan Ketakjuban, Pengambilan risiko, Rasa saling memiliki, dan Keteladanan di Kelas.
c. Orkestrasi Landasan, mempelajari peran Tujuan, Prinsip, Keyakinan, Kesepakatan, Kebijakan Prosedur dan Pengaturan untuk mengorkestrasi konteks untuk belajar optimal. Disamping itu ada cara-cara untuk menjaga komunitas belajar agar tetap tumbuh, menciptakan kemitraan, dan memberikan visi tentang segala kemungkinan.
d. Orkestrasi Lingkungan adalah cara-cara memperbaiki pengajaran melalui musik, lingkungan sekitar dan penggunaan alat-alat Bantu, disamping tanaman, aroma, dan pengaturan bangku misalnya berbentuk huruf U.
e. Perancangan Pembelajaran merupakan perluasan asas utama, menekankan kebutuhan untuk meraih hak mengajar. Prinsip segalanya bertujuan disegarkan oleh modalitas VAK, multiple intelligence, dan model kesuksesan. Juga penjelasan lebih jauh tentang TANDUR.
f. Presentasi adalah bab kedua dalam bagian isi. Pencocokan modalitas, prinsip-prinsip komunikasi ampuh, dan tindakan non verbal yang ampuh dimasukkan kedalam pengajaran. Juga dilengkapi dengan 3 paket presentasi : penemu, pemimpin, dan pengarah.
Quantum identik dengan bidang eksakta. Secara harfiah artinya interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya. Bila diterapkan dalam pembelajaran interaksi ini mengubah kemampuan dan bakat alamiah siswa menjadi cahaya yang akan bermanfaat bagi orang lain. Menurut Bobbi DePorter (2005 : 3) Quantum Teaching adalah pembelajaran dengan menggabungkan unsur seni dan pencapaian tujuan belajar yang terarah agar mampu melejitkan prestasi siswa, juga menggubah menjadi meriah dengan segala suasananya.
Dari pengertian diatas, dapat dirumuskan bahwa Quantum Teaching mengandung unsur-unsur sebagai berikut :
a. Interaksi gabungan
b. Unsur seni
c. Pencapaian tujuan belajar
d. Pembelajaran meriah
e. Melejitkan prestasi
Dua unsur khusus yang membedakan Quantum Teaching dengan yang lain adalah adanya unsur seni dan melejitkan prestasi. Pada umumnya pembelajaran yang melejitkan prestasi adalah pembelajaran yang serius dan berat. Tetapi kombinasi antara unsur yang menyenangkan yaitu seni dan melejitkan prestasi siswa membuat Quantum Teaching menjadi metode belajar yang unik sekaligus menantang baik bagi guru maupun siswa.
2.3.1 Kata Kunci dalam Quantum Teaching
Bobbi (2005 : 5-6) menjelaskan kata kunci dalam Quantum Teaching adalah hal-hal berikut :
a. Quantum adalah orkestrasi bermacam-macam interaksi yang ada di dalam dan di sekitar momen belajar, interaksi ini mencakup unsur-unsur untuk belajar efektif yang mempengaruhi kesuksesan siswa
b. Pemercepatan belajar artinya menyingkirkan hambatan belajar yang menghalangi proses belajar alamiah dengan sengaja menggunakan musik, mewarnai lingkungan sekeliling, menyusun pengajaran yang sesuai, cara efektif penyajian, dan keterlibatan aktif
c. Fasilitasi adalah memudahkan segala hal, setelah menyingkirkan hambatan proses belajar, lalu mengembalikan kepada proses belajar yang mudah dan alami.

2.3.2 Asas Utama Quantum Teaching
Asas utama dalam Quantum Teaching menurut Bobbi (2005 : 6) adalah bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan antarkan dunia kita ke dunia mereka. Kata mereka merujuk pada siswa, dan kita adalah guru. Dengan kata lain, bawalah dunia siswa ke dunia guru, dan antarkan dunia guru ke dunia siswa. Artinya sebagai seorang guru harus memasuki dunia siswa terlebih dahulu, setelah memasuki dunia siswa, guru bisa menuntun dan memudahkan siswa menuju kesadaran dan ilmu pengetahuan yang lebih luas. Kombinasi antara pengalaman yang diperoleh dari dunia siswa dengan dunia guru yang lebih luas akan dibawa pulang oleh siswa dan menerapkannya dalam situasi baru.

2.3.3 Prinsip-prinsip dalam Quantum Teaching
Bobbi (2005 : 7-8) menjelaskan prinsip Quantum Teaching ada lima yaitu :
a. Segalanya berbicara. Lingkungan belajar, bahasa tubuh guru dan rancangan pembelajaran, semua menyampaikan pesan belajar
b. Segalanya bertujuan. Tidak ada yang sia-sia dalam setiap unsur pembelajaran
c. Pengalaman sebelum pemberian nama, artinya siswa mengalami atau mengetahui informasi tersebut
d. Akui setiap usaha. Belajar adalah kegiatan yang mengandung resiko, apabila siswa berani mengambil resiko tersebut, guru patut memberikan pengakuan
e. Jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan. Perayaan perlu diadakan setelah selesai pembelajaran agar emosi positif siswa dalam hal belajar meningkat.

2.3.4 Kerangka Belajar TANDUR
Bobbi menyatakan (2005 : 10, 88-89) kerangka belajar dalam Quantum Teaching disebut dengan TANDUR. Merupakan kependekan dari Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi, dan Rayakan. Lebih jauh mengenai TANDUR adalah sebagai berikut :
a. Tumbuhkan, yang ditumbuhkan adalah minat siswa dengan konsep AMBAK (Apa Manfaatnya BAgi Ku)
b. Alami, datangkan pengalaman umum dari materi yang dipelajari dengan contoh yang dimengerti oleh semua siswa dan dekat dengan pengalaman mereka
c. Namai, berupa pemberian kata kunci, konsep, model, rumus atau strategi dari materi
d. Demonstrasikan, guru menyediakan kesempatan kepada siswa bahwa mereka tahu mengenai materi yang dibahas
e. Ulangi, tunjukkan kepada siswa cara mengulang materi dan menegaskan bahwa siswa tahu kalau mereka mengetahui tentang materi yang dibahas
f. Rayakan, pengakuan dari penyelesaian, partisipasi, perolehan keterampilan dan pengetahuan siswa.

2.3.5 Modalitas Belajar VAK
Modalitas VAK menurut Bobbi (2005 : 84-85) adalah kependekan dari Visual-Auditorial-Kinestetik. Hal ini berhubungan dengan cara belajar siswa. Dalam satu kelas, kemampuan siswa dalam menyerap materi yang diajarkan berbeda dan memiliki cara belajar yang berbeda pula. Ada yang lebih menyerap materi dengan cara visual atau melihat, misalnya dengan membaca instruksi atau melihat diagram. Ada yang dengan cara auditorial atau mendengar, misalnya dengan meminta seseorang membacakan suatu cara kepadanya. Ada pula dengan cara kinestetik yaitu belajar dengan cara bergerak, menyentuh atau bekerja, misalnya dengan mengerjakan soal sendiri. Pembelajaran Quantum Teaching membolehkan siswanya untuk berjalan-jalan dan berbicara di kelas sepanjang sesuai dengan materi pelajaran yang dibahas.

2.4 Jenjang Sekolah di Indonesia
Ary H. Gunawan (1996 : 182) menyatakan berdasar tingkat atau jenjang sekolah, maka organisasi pendidikan formal di Indonesia tersusun dari tingkat bawah sampai atas yaitu TK, SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi.

2.5 Interaksi Edukatif
Umar Tirtarahardja dan La Sulo (2000 : 56) menjelaskan bahwa

interaksi edukatif antara peserta didik dengan pendidik pada dasarnya adalah komunikasi timbal balik antarpeserta didik dengan pendidik yang terarah kepada tujuan pendidikan. Pencapaian tujuan pendidikan secara optimal ditempuh melalui proses berkomunikasi intensif dengan memanipulasikan isi, metode, serta alat-alat pendidikan.

2.6 Inovasi Pendidikan

Hasbullah (2006 : 190-191) menjelaskan bahwa :
Inovasi adalah perubahan-perubahan yang terjadi pada aspek-aspek tertentu, dalam arti lebih sempit dan terbatas. Tujuan utama inovasi adalah berusaha meningkatkan kemampuan yakni kemampuan dari sumber-sumber tenaga, uang, sarana dan prasarana, termasuk struktur dan prosedur organisasi.

2.6.1 Masalah yang Menuntut Inovasi Pendidikan
Hasbullah (2006 : 201) menerangkan beberapa masalah yang menuntut inovasi salah satunya adalah menurunnya kualitas pendidikan.

2.6.2 Masalah yang Harus Dipecahkan Melalui Inovasi Pendidikan
Hasbullah (2006 : 201-202) menerangkan beberapa masalah yang harus dipecahkan melalui inovasi adalah sebagai berikut :
a) Kurang meratanya pelayanan pendidikan
b) Kurang serasinya kegiatan belajar dengan tujuan
c) Belum efisien dan ekonomisnya pendidikan
d) Belum efektif dan efisiennya sistem penyajian
e) Kurang lancar dan sempurnanya sistem informasi kebijakan
f) Kurang dihargainya unsur kebudayaan nasional
g) Belum kokohnya kesadaran, identitas, dan kebanggaan nasional
h) Belum tumbuhnya masyarakat yang gemar belajar
i) Belum tersebarnya paket pendidikan yang memikat, mudah dicerna, dan mudah diperoleh
j) Belum meluasnya kesempatan kerja.

Dalam pembahasan ini poin yang akan dibahas adalah mengenai poin d, yaitu belum efektif dan efisiennya sistem penyajian pembelajaran di kelas.

Leave a comment »