Neoratnayuwinda

welcome in my 2nd time

Realitas Nyata : Internet dan Sekolah Kecil

Dewasa ini, teknologi sudah berkembang pesat disegala aspek kehidupan manusia, tidak terkecuali dalam bidang pendidikan, sehingga di dunia persekolahan pun ikut terkena imbasnya diantaranya dengan ramainya media presentasi materi pelajaran berbasis IT, baik berupa slide, video, animasi, toturial melakukan sesuatu sesuai prosedur, bahkan kelas maya yang bisa menjangkau siswa dari belahan bumi manapun. Intinya untuk belajar dengan sumber-sumber digital hanya diperlukan kemauan lebih dari para siswa, atau pun calon siswa untuk menggali materi lebih dalam, semua sudah tersedia diujung jari.

Gambaran diatas adalah gerakan teknologi dipermukaan saja, bila ingin menyelami peran teknologi lebih dalam, dapat digunakan spasial dimana keberadaan kita untuk membukanya. Pada sekolah yang tidak berada di pusat kota dengan jumlah siswa dibawah 100 orang, katakanlah jauh dari pusat kota, seperti kampung, desa, yang komputer ataupun portable komputer bukanlah alat pegangan seseorang setiap hari, maka peran teknologi bukanlah lagi sebuah keuntungan yang lebar, untuk pendidikan sekalipun, tetapi sebagai halangan baru. Bahkan bisa jadi merupakan kebutuhan mewah, karena tidak semua orang di kampung bisa menggunakan dan memerlukan ada alat tersebut dalam rumah mereka.

Bisa jadi orang di kota berkoar-koar, bahwa hari ini dunia berada diujung jari mereka. Sementara bagi yang jauh dari pusat kota yang tidak bisa menikmati memegang gadget setiap hari atau menikmati kuota internet, dunia tetaplah seperti realitas nyata yang mereka hadapi sehari-hari. Pun ketika uji coba penerapan Kurikulum 2013 jilid satu beberapa tahun lalu, dengan penerapan Saintifiknya yang mengedepankan 5M, dan menjadikan internet sebagai sumber belajar, maka bagi sekolah kecil dengan kekuatan sinyal internet yang lambat merupakan tantangan yang tidak ringan. Jangankan untuk menemukan materi yang akan dipelajari, menunggu membuka homepagenya saja diperlukan waktu lama hampir satu jam pelajaran, kapan lagi ingin mendiskusikan, sekaligus presentasinya. Apalagi dalam kurikulum 2013 pelajaran TIK diintegrasikan kedalam mata pelajaran yang lain. Bagi sekolah dikota mungkin tepat saja, dimana dirumah mereka ada komputer yang bisa mereka gunakan untuk belajar, bagaimana disekolah kecil? Yang komputer dalam lab. komputernya saja bisa dihitung dengan jari, yang setiap kali ingin belajar komputer harus ngantri, dan sekarang siswa-siswa itu dituntut untuk melek teknologi minimal bisa menggunakan komputer untuk mengolah hasil belajarnya. Dan ini masih untung, ada sekolah yang berada diatas gunung, yang listrik saja belum mencapai daerah itu apalagi komputer? Apakah sekolah-sekolah yang seperti ini, siswa-siswinya diharapkan bisa melek teknologi juga, dan dapat mengikuti UNBK ditahun akhir studinya nanti?

Ada banyak keresahan bagi sekolah kecil yang memiliki siswa yang belum melek teknologi komputer dan sinyal lambat dalam akses internetnya untuk menyambut penerapan kurikulum 2013, sehingga dengan keadaan ini peran teknologi tidak dapat dikatakan mendukung penuh proses pembelajaran masa kini, karena sejauh ini yang dapat dilakukan oleh teknologi komputer dan aplikasinya hanya sebatas dalam memperjelas penyampaian materi pembelajaran yang tidak dapat dilakukan oleh gambar diam, ataupun mengenalkan beberapa aplikasi standar kepada siswa yang itu pun praktiknya tidak dapat dilakukan setiap hari karena keterbatasan alat dan waktu belajar yang disediakan, sehingga pada saat ulangan, materinya terlupakan karena terlalu lama mengantri.

At least, setidaknya kementerian Pendidikan bisa meninjau lokasi sekolah dulu sebelum menggolkan penetapan kurikulum yang sama dari pusat kedaerah secara merata dan serempak, sehingga peran teknologi yang diharapkan meringankan siswa tidak menjadi senjata makan tuan yang bisa memberatkan siswa dan melemahkan Guru. Amiin.

“Artikel ini diikutkan dalam Lomba Menulis Guru Era Baru”

Topik kedua : PERAN TEKNOLOGI DALAM PROSES BELAJAR MASA KINI

Leave a comment »

huuuhh… parah!

agak hate juga deh ma yang judulnya MGMP yang itu. kayaknya aku gak pernah dapat kesempatan untuk bisa masuk kesana. entah cuaca yang gak dukung. kadang jam nya yang berubah seenaknya. kadang informasinya telat bangged. katanya sih disana lahannya basah banget. apa karena itu ya jadi rada ogah ngangkut orang baru?

sebenarnya aku gak minat juga dengan lahan basah itu. yang ku bawa2 dari kemarin adalah kaizennya siswa. perbaikan kecil tapi terus menerus. aku paling ogah berjuang diakhir kayak kebanyakan guru Indonesia yang membantu siswanya sampai kesempatan terakhir. dengan cara ikut ujian yang sama dengan siswa. bukannya sok gak solidaritas ma siswa sih, tapi itu namanya menjerumuskan.

orang paling oon pun senang dengan hasil kerjanya sendiri. jarang banget mau di katrol2. en kayaknya banyak rekan yang senang mendidiknya dengan gaya menyayangi model begitu.

en katanya juga demi mengejar lulus 100%. padahal normalnya ujian kan ada yang lulus ada yang enggak. klo semua lulus, gak ada gunanya donk istilah “gagal adalah sukses yang tertunda” berarti semua guru pada canggih2 semua ngajarnya. yang sulit tuh adalah pertanggung jawabannya. bisa aja sih ngasih nilai sesuai kemampuan dia. tapi orang pasti liat kalo mank dia gak mampu. at least penilaian yang ada itu ngukurnya lewat mana kan bingung lagi, padahal gurunya Sarjana semua, tapi menilai semua pukul rata. tentunya bagi yang kritis gelarnya bisa dipertanyakan lagi.

ujung2nya tadi, aku minta dikabarin minimal sehari sebelum mgmp. emang dikira gak ada kegiatan laen gitu, seenaknya ngerubah jadwal. gene2 juga punya jadwal lagi. yang pasti2 aja deh,, klo mank gak kompak biar soalnya q bikin sendiri. so gak “berharap lebih” deh…

Leave a comment »

Like teacher, like student!

pernah dengar gak sih ungkapan like father, like son? judul diatas bukanya ingin memplesetkan ungkapan itu, tapi memetakan sebuah kenyataan bahwa ternyata pembawaan dan kepribadian seorang guru juga berpengaruh pada diri siswa.

menjadi guru, merupakan posisi yang aman bagi sebagian banyak orang. karena liburnya mengikut jadwal libur siswa. bila dalam suatu wilayah dibuka lowongan menjadi guru, ada banyak orang yang melamar.

ada banyak pengembangan diri yang dilakukan oleh para guru. tapi kebanyakan dari sekian banyak itu, kadang guru2 merasa berat mengubah diri untuk menjadi yang lebih baik. utamanya guru2 yang udah “berusia banyak” dan jelang pensiun.

sepertinya statement dikepala mereka itu adalah “perubahan milik guru muda. kami yang tua ini biarlah seperti ini” sementara dilapangan yang paling banyak bersentuhan dengan siswa ya mereka yang sepuh2 itulah.

jadinya mikirnya gini deh, kayaknya yang bikin pendidikan statis gini, bukan salah siswanya doank deh, tapi karena guru2nya sebagian besar ogah berubah karena faktor Usia.

sehingga like teacher, like student laaaa ^^

somebody help?

Leave a comment »

what’s next?

apa yang ingin kamu lakukan 5 tahun kedepan?
apa yang ingin kamu lakukan 3 tahun mendatang?
2 tahun kedepan lo mau jadi apa?
tahun depan lo mau jadi siapa?

Pernah gak sih ditanya kayak gitu? en biasanya klo ditanya gitu, kadang otak kita langsung loading dulu, haho haho dulu ma jawab apa. secara dari zaman sekolah kita tuh jarang punya kesempatan untuk memetakan apa yang mo rencanakan. jangankan punya rencana kebayang aja mungkin enggak. dari zaman skul kebanyakan orang udah membuatkan blueprint hidup kita “secara aman” yaitu kuliah tinggi2 untuk memiliki ijazah en melamar kerjaan sebagai karyawan. sekali lagi just be Karyawan. mestinya sih klo punya ijazah tinggi bukannya jadi karyawan,, hehehe…

tapi kebanyakan orang merasa perlu jaminan aman, en itu hanya di dapat dari status karyawan.

cara paling gampang melihat masa depan kita saat jadi pegawai adalah dengan melihat apa yang terjadi pada pegawai yang paling lama bekerja di tempat kerja kita. itulah gambaran kasar masa depan kita, minimal beda tipis aja dengan beliau.

ketika teken kontrak diatas surat penerimaan, saat itulah kita menyerahkan total waktu produktif, tenaga produktif dan pikiran produktif kita pada pekerjaan itu, dan di gaji yang sudah ditentukan, yang hanya naik sedikit secara berkala. bukan ditentukan berapa kerasnya kita bekerja.

begitu pensiun, kita beserta keluarga hanya menikmati sisa2nya dari waktu, pikiran, dan tenaga serta gaji kita.

jika sudah siap dengan resiko itu, soo.. say welcome employee ^^

Leave a comment »

say hello

lama gak main ke web ini hampir bikin aku lupa sandi masuknya, untung aja dulu bikinnya dengan kata2 penuh cinta, jadi meskipun gak terekam dalam memori hp i still remember.
sekarang aku dah jadi teacher angkatan januari 2010, dengan cara yang indah, setengah dipaksa bekerja sesuai ijazah. bagi sebagian orang ini adalah suatu dream come true. sekolah 12 tahun, kuliah, lalu bekerja sesuai keahlian.
punya peralatan yang mendukung kerja, tinggal mencari pasangan hidup aja lagi,, katanya…
banyak orang beranggapan klo si cewenya PNS, minimal cowonya juga harus dari kasta yang sama. tapi aku sedikit trauma masa kecil, punya ortu sesama PNS malah bikin bete. ketemunya pas sore aja. masih pengen manja2 dipagi hari eh udah ditinggal. biar kata nangis sampai kepala cenut2 tetep aja gak datang2…

lagian co single PNS kan susah nyarinya. pasti aja udah ada yang ngapling duluan wkwkw…
trus nih ada juga yang bilang untuk mahar, in several place, ada yang sengaja masang tarif tinggi buat mempelai PNS. haha… dikira banyak duitnya kali ya, mancing orang korupsi aja.. wkwkwk… tabahkan aja hatimu PNS single.
padahal nih ya kalo emang mo mahar mahal mending minta ma saudagar aja. ini sama abdi negara, ya wajar aja klo negara sering banget di korupsi gara2 mutan-mutan yang suka naruh harga tinggi buat kawin.. (wish not)

oke deh,,, im so hungry right now… bubye…

Leave a comment »

thanks to all

Leave a comment »

email koeseong

hehehe… email dah kosong… ho333

Leave a comment »

huuummpppphhhhh

rekor neh… lama2 mejeng… hehehe… batal deh niatan mo bo2 siang… paling bis ne cm ngisi pulsa baru mandi… makannya jam barapa yaaa???

Leave a comment »

paket B yang arrrggghhhh….

fiuuwwwhhh… yang namanya TIM tentunya kompak lo biasanya. but, pada saat ini aku t masuk dalam tim super aneh… yang sama sekali gak cs an… kacau banget. sum time nih, q jadi kulinya mereka, but in other time, q jadi bos,,,, heran!
anehnya lagi tu, mereka tu gak transparan klo da kerjaan. okelah soal manipulasi it, tapi kan dalam soal lain bisa kompakan. ne nggak… sebel!!!!

Leave a comment »

this iz my ‘terpaksa berkhianat’ skripsi

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Undang-Undang no. 2 tentang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 1989 Bab I Pasal 1 ayat 1 menegaskan pendidikan adalah usaha sadar untuk menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan bagi perannya di masa yang akan datang.
Salah satu unsur dari pendidikan adalah guru atau pendidik yakni orang atau pihak yang menyelenggarakan kegiatan bimbingan, pengajaran, dan atau latihan untuk masa depan peserta didik. Sedangkan sekolah adalah tempat interaksi peserta didik dan pendidik berlangsung dalam jenjang, waktu, dan materi tertentu setelah menyelesaikan persyaratan administrasi.
Ditinjau dari kedudukannya, guru memegang posisi yang penting dan berpengaruh bagi kelangsungan masa depan siswa, karena dari hasil interaksi dengan gurulah siswa dapat mengenali potensi yang ada pada dirinya baik secara akademis maupun sikap, yang mungkin dipertahankannya sampai pada masa-masa mendatang pendidikannya. Sehingga interaksi ini menjadi salah satu kajian yang tidak henti diteliti untuk mendapatkan formula yang tepat agar menghasilkan lulusan bermutu.
Agar dapat mewujudkan visi misi sebuah sekolah yang telah disusun, harus didukung oleh semua unsur yang ada di sekolah. Manajemen sekolah yang sistematis, guru-guru yang kompeten di bidang masing-masing, dan pelayanan sekolah yang ramah dapat membuat siswa senang berada di sekolah. Begitu siswa sampai di sekolah mereka membawa tuntutan dari rumah untuk mendapatkan nilai yang bagus, tetapi sebagian siswa ada yang dapat memenuhi hal tersebut secara alami, ada pula yang kesulitan sehingga direfleksikan dengan mengganggu kelas atau bersikap apatis terhadap apa yang diajarkan.
Keadaan yang semacam ini bisa menimbulkan frustasi bagi siswa maupun guru yang berakibat pada penurunan antusias, motivasi, rasa ingin tahu, keperdulian, atau keberanian yang diperlukan untuk belajar, apabila hal ini berlangsung terus menerus. Hal ini bisa menimbulkan kejenuhan dalam diri siswa yang akhirnya berakibat pada tidak tercapainya nilai yang diinginkan atau menempuh cara semacam mencontek dan lainnya, lalu mengeluarkan statement semacam ‘belajar itu susah atau membosankan’ padahal hanya melalui pendidikan manusia bisa dicetak untuk memenuhi kebutuhan pembangunan daerah dan nasional. Bisa dibayangkan bila hal itu terus terjadi dapat berakibat pada penurunan output, dalam hal ini nilai siswa.
Untuk memperbaikinya diperlukan sebuah inovasi dalam mengembalikan motivasi belajar siswa untuk belajar. Kenyataan yang terjadi di sekolah kita adalah terbatasnya guru dengan cara mengajar yang membuat semangat siswa menggebu-gebu dalam belajar, masih adanya guru killer yang menjadi momok yang menakutkan bagi sebagian siswa untuk belajar, guru yang cara mengajarnya membosankan membuat siswa tertidur dalam belajar, tetapi menginginkan siswa memperhatikan pelajarannya. Dalam kasus ini, yang perlu dibenahi adalah interaksi guru dan siswa dalam kelas, guru selaku pemberi servis pendidikan perlu diberikan keterampilan baru yang sesuai dengan perkembangan teknologi.

Pembelajaran versi Quantum Teaching adalah pembelajaran yang menyenangkan dan meningkatkan prestasi siswa. Maksudnya adalah siswa yang sebelumnya apatis, tidak antusias, tidak termotivasi, tidak berhasrat ingin tahu, dan seperti tabularasa dibangkitkan semangatnya dengan mengubah pandangan guru bahwa siswa bukanlah pribadi yang kosong tetapi sudah mengetahui informasi, tetapi belum mengetahui lebih dalam sehingga guru membantu agar mereka memahami dan bisa menerapkan dalam kehidupannya. Dengan demikian beban mengajar guru berkurang dan bisa menikmati ‘rasa’ dari mengajar, dan siswa dapat menikmati bagaimana belajar seharusnya.

1.2 Batasan Masalah
Batasan masalah adalah hal-hal yang menjadi semacam patokan agar pembahasan tetap fokus yang tidak melebar kemana-mana. Dalam tulisan ini pembahasan dibatasi oleh hal-hal berikut :
a. Batasan objek penelitian, objek penelitian ini adalah model Quantum Teaching (QT) dalam pembelajaran Sains oleh Trainer QT dengan pertimbangan agar dapat melihat praktik model QT dengan lebih jelas, trainer yang ada di sekolah mengajar Sains, agar tidak terjadi halo effect dalam observasi, dan agar proses belajar berjalan sebagaimana biasanya mengingat penelitian ini bukan penelitian eksperimental.
b. Batasan waktu, tahun penelitian ini adalah tahun 2007/2008 dengan pertimbangan pembahasan akan lebih spesifik dan nilai yang terbaru, dan lembaga yang bersangkutan baru berdiri tahun 2005.
c. Batasan tempat, SMP Negeri 1 Tanjung kelas VII A karena tahun 2007/2008 adalah tahun pertama kelas VII A diajar dengan model Quantum Teaching, sehingga menarik perhatian untuk mengetahui penerapan Quantum Teaching di kelas ini. Pemilihan lokasi penelitian berdasarkan perkembangan data yang dapat dikumpulkan di lapangan.
d. Batasan masalah, pembahasan dikhususkan pada penerapan model Quantum Teaching sebagai salah satu bentuk inovasi pendidikan di kelas yang dihubungkan dengan motivasi dan interaksi belajar siswa serta pendapat mereka tentang model yang dipakai guru Sains mereka di kelas.

1.3 Rumusan Masalah
Bertolak dari latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan menjadi rumusan masalah. Pengertian masalah dalam tulisan ini didefinisikan oleh Muhammad Hatta (1970 : 10) dalam Abdul Hakim (1998 : 9) sebagai kejadian yang menimbulkan pertanyaan di hati kita tentang kedudukannya, kita tidak puas dengan melihat saja melainkan ingin mengetahui lebih dalam.
Dari pendapat tersebut, masalah adalah keadaan atau peristiwa yang menimbulkan pertanyaan dan pertanyaan itu mendorong untuk mengadakan penelitian. Fokus utama dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut : Bagaimanakah penerapan model Quantum Teaching dalam pembelajaran Sains di kelas VII A pada tahun 2007/2008?
Secara lebih khusus, fokus penelitian tersebut dirumuskan menjadi pertanyaan penelitian sebagai berikut :
a. Bagaimana contoh interaksi belajar dalam model Quantum Teaching?
b. Bagaimana pendapat siswa kelas VII A SMP Negeri 1 Tanjung tentang model Quantum Teaching?
c. Bagaimana motivasi belajar siswa kelas VII A belajar dengan model Quantum Teaching?

1.4 Definisi Operasional
Agar tidak terjadi penafsiran yang ganda dalam membaca tulisan ini, maka penulis menganggap perlu mengungkapkan definisi operasional untuk menjelaskan beberapa istilah-istilah yang sering muncul dalam tulisan ini, yaitu :
a. Quantum Teaching adalah pembelajaran yang menggabungkan unsur seni dan pencapaian tujuan belajar yang terarah agar mampu melejitkan prestasi siswa, juga menggubah pembelajaran menjadi meriah dengan segala suasananya.
b. SMP Negeri 1 Tanjung adalah satu-satunya sekolah berbasis nasional di Kecamatan Tanjung dan memiliki trainer sendiri di sekolah.
c. Kelas VII A merupakan lokasi penelitian ini. Terdiri dari 24 siswa dari berbagai penjuru daerah sekitar kota Tanjung.
d. Motivasi belajar diartikan sebagai motif siswa untuk turut serta dalam kegiatan belajar mengajar baik secara ekstrinsik, maupun instrinsik.
e. Interaksi belajar diartikan sebagai komunikasi yang terjadi baik searah maupun dua arah antara pendidik dan peserta didik dalam situasi belajar mengajar.

1.5 Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan penelitian adalah hal-hal yang ingin dicapai dengan adanya penelitian ini, sedangkan manfaat adalah hal-hal yang menjadi kegunaan dari penelitian ini. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Mendeskripsikan penerapan Quantum Teaching sebagai salah satu bentuk inovasi pendidikan dalam proses mengajar khususnya tentang motivasi belajar siswa.
b. Mendeskripsikan tentang model Quantum Teaching untuk kelas VII
Manfaat penelitian itu secara teori adalah memberikan informasi mengenai penerapan model Quantum Teaching bagi motivasi belajar. Secara praktis adalah sebagai saran bagi lembaga pendidikan seperti Fakultas Keguruan untuk mengadakan pelatihan semacam itu untuk mahasiswanya sebagai calon guru masa depan. Karena tulisan ini rintisan, semoga dapat memberikan ilham bagi penulisan selanjutnya tentang Quantum Teaching.

1 Comment »