Neoratnayuwinda

welcome in my 2nd time

makalah kapita sej Dunia q yang dulu…

on June 30, 2008

KONFUSIUS (551-479 SM)
Orang paling penting di Cina, guru, filsuf, dan politikus yang idenya mempengaruhi peradapan seluruh Asia Timur yang sangat mendalam. Cerita kehidupan nyata tentang hidup dan pekerjaannya hampir-hampir hilang dalam kejayaan legenda yang tumbuh dari namanya. Nama keluarganya adalah K’ung. Konfusius adalah bahasa latin dari K’ung Fu-Tzu, atau Guru K’ung. Cina dulunya hanya kesatuan nominal, rajanya hanya boneka dan bermacam negara feodal adalah efek terpisah antara bangsawan yang berkuasa yang berlaku sesuka mereka. Kaum aristokrat menciptakan perang pada masa lalu dan menarik pajak, dan membebaninya dengan kerja paksa, serta menekan rakyat semaunya.
Sambil menunggu keberuntungannya yang tak kunjung datang, Konfusius mengajarkan para pemuda tentang prinsipnya, membentuk sebuah grup, dan muridnya menjadikannya Guru. Dia dengan luarbiasa sukses menempatkan muridnya dalam posisi otoritas nyata, yang mana di antara mereka sangat mampu.
Setelah umurnya 50 tahun ia melakukan perjalanan dari satu negeri ke negeri lain, pada umur 67 dia memenuhi undangan muridnya kembali mengajar, dan dari situ dia terus mengajar sampai meninggalnya pada umur 72 tahun.
AJARAN KONFUSIUS
Ajaran Konfusius berisi pengolahan moral pribadi, sosial, dan politik. Konfusius menginginkan seorang individu menjadi orang superior yaitu orang yang sangat bijak, yang bisa menstabilkan karakternya sendiri dan menolong menstabilkan oranglain. Konfusius dan pengikutnya menginginkan keluarga harmonis, negara teratur dan dunia damai. Meskipun kadang Konfusianis di sebut sebagai agama, tetapi Konfusius bukanlah pemimpin yang agamis.
Filsafat Cina memberikan relatif kecil perhatian kepada metafisik, epistemologi, dan logika. Hal ini bukan karena Konfusius adalah pemikir yang kacau karena tidak mengutamakan logika. Teorinya tentang pengetahuan memiliki beberapa kemiripan dengan yang di sebut dengan ilmu modern, yaitu non dogmatik dan empiris. Dia menyatakan : jangan ragu bila ada orang yang mungkin bertindak tanpa mengerti situasi dulu, tetapi aku bukanlah salah satu dari mereka, Dengarkanlah dahulu, pilih yang baik dan ikuti hal itu. Lihat dan hati-hatilah, ada di antara tahapan yang di gunakan orang untuk melangkah lebih jauh.
Kemanusiaan adalah pusat dari filosofinya. Kebajikan menurutnya adalah mencintai manusia, dan kebijaksanaan adalah untuk memahami manusia. Konsepnya tentang sistem kekerabatan menjadi poros kebudayaan Cina, dan menurut Konfusius umat manusia adalah satu keluarga besar. Konfusius menyatakan : dalam empat lautan semua manusia adalah bersaudara. Orang yang benar-benar bijak ingin menolong dirinya sendiri, menolong orang lain, menginginkan sukses untuk diri sendiri dan menolong orang lain untuk sukses. Untuk menemukan harapan hati seseorang, prinsip untuk kelakuannya terhadap oranglain adalah metode kebajikan sejati. Menurut ide tersebut, dia percaya bahwa negara harus menjadi kegiatan bersama.
Filsafat
Kontroversi tentang masalah prinsipil dan kekuatan materi. Umumnya dualisme ajaran rasionalistik Ch’eng Chu lebih dominan dari abad 12 sampai 15. Pada abad ke-16 hampir di gantikan oleh ajaran Idealis Wang Yang-Ming, yang menyatakan prinsipil dan kekuatan materi adalah satu. Masalah lain yang kontroversial yang dibawa beberapa ratus tahun adalah ”pengusutan [ko] benda-benda”. Dalam skala besar perbedaan dalam persoalan ini sejalan dengan pertanyaan prinsipil itu sendiri. Ajaran Ch’eng Chu menafsirkan ’ko’ menunjuk pada penyelidikan prinsipil dalam segala benda yang ada, induktif atau deduktif. Dilain pihak menurut Wang Yang-ming dan pengikutnya ’ko’ menunjuk pada meralat hal yang salah dari pikiran, dalam premis bahwa prinsipil identik dengan pemikiran. Mayoritas Neo-Konfusianisme termasuk yang menghormati kekuatan materi daripada prinsipil sebagai unsur utama, menyukai pelajaran objektif tentang benda-benda, inilah tradisi rasionalisme yang membedakan Konfusianis lebih jelas dari pendekatan intuisi Budhisme dan Taoisme.
Dalam etika, Neo-Konfusianis melanjutkan doktrin klasik bahwa sifat manusia adalah baik dan nilai moral terbesar adalah Jen atau kemanusiaan. Kejahatan berasal dari ketidakseimbangan pemberian sifat psikologi. Teori ini di anggap fatalistik yang mengasosiasikan kejahatan dengan perasaan.
Sebagai doktrin tentang Jen basis moral filsafat mengalami evolusi yang panjang, sebelum masa Konfusianis, Jen di pandang sebagai kebaikan aturan untuk pekerjaan mereka, hal itu kemudian meluas menjadi kebaikan tetapi tidak lebih terbatas pada aturan. Konfusius mengubahnya jadi kebaikan sejati, yang termasuk segala kebaikan dan di terapkan pada semua orang.
Mencius dan doktrin Jalan tengah menyatakan bahwa jen adalah jen, maksudnya jen adalah yang membedakan karakteristik manusia. Selama dinasti Han, hal itu di interpretasi sebagai Cinta dan Han Yü pada dinasti T’ang menekankan hal itu sebagai cinta untuk seluruh umat manusia. Di bawah pengaruh Budha, tidak hanya seluruh manusia tapi juga benda-benda. Sama halnya, Neo-Konfusianis dinasti Sung dan Ming hampir mirip tingkat Jen berarti membentuk satu tubuh dengan surga, dunia dan segala benda.
Etika
Awal poin penting dari etika adalah kecintaan anak, akar segala moral kehidupan, karena orangtua yang memberi kehidupan anak-anaknya, keperdulian dan kebahagiaannya. Karena hubungan antara orangtua dan anak adalah hubungan yang paling pertama kali dan alami, dan yang paling penting dari segalanya karena tidak ada yang dapat berbuat baik pada oranglain tanpa berbuat baik pada orangtua terlebih dahulu.
Banyak institusi yang berdiri di sekitar konsep sentral ini. Sebagai ungkapan kesungguhan cinta pada orangtua, anak-anak harus melayani, mendukung, dan mematuhi orangtuanya. Setelah orangtuanya meninggal, mereka harus menghormatinya dalam upacara penghormatan leluhur dan harus merawat makamnya dengan baik. Ajaran kepatuhan anak kepada ayah bukan di lakukan secara buta atau tidak sesuai kondisi, seorang anak mempunyai tanggung jawab untuk memperingatkan jika ayahnya melakukan kesalahan. Lebih jauh, jika anaknya benar-benar menyayangi ayahnya, maka ayah pun harus menyayanginya juga.
Meskipun aturan-aturan berubah, kepercayaan dasar bahwa antara orangtua dan anak mempunyai hubungan khusus satu sama lain tetap bertahan. Etika ajaran Konfusian umumnya dan doktrin kecintaan anak berpengaruh sampai ke Korea, Jepang dan beberapa daerah Annam. Salah satunya kasus di Jepang, di mana tradisi menghormati pedang di kombinasikan dengan ide Etika Konfusius dalam membentuk kode Bushido atau jalan Prajurit. Hal ini sangat tidak mungkin di Cina, yang mana orang superior di Cina adalah orang terpelajar dengan kecakapan moral bukan seorang petarung dengan pedang.
Sosial
Dari semua lembaga sosial, kekerabatan adalah bagian penting dalam Konfusianis, sebagian karena adalah dasar alami untuk pelatihan moral dan yang lain adalah hal ini adalah jembatan antara individu dan masyarakat. Dalam Konfusianis Cina, kekerabatan ikut ambil bagian dalam aktivitas sosial, ekonomi, dan politik sebagai sebuah kelompok. Kesejahteraan, kehormatan, kebahagiaan, punya banyak anak adalah keluarga ideal, tetapi yang paling penting adalah mencintai kebajikan. Menurut Konfusius ada lima hubungan dalam masyarakat, yaitu ; antara anak dan ayah harus ada kasih sayang, antara penguasa dan mentri harus ada kesepahaman, antara suami dan istri harus ada perhatian tentang fungsi mereka masing-masing, antara kakak dan adik harus saling menasehati, dan antara teman harus saling percaya (Mencius). Tiga di antara ajaran tersebut ada dalam keluarga.
Untuk merealisasikan hubungan yang ideal ini Konfusianis memberikan dua doktrin penting ; aturan kesopanan dan meralat nama. Dengan kesopanan dalam arti sempit, detail etiket dan upacara, sedang arti luas adalah ketepatan sifat dan ekspresi. Kedua hal ini sangat penting untuk pengaturan sosial yang sempurna, dan Konfusius sendiri melakukannya.
Doktrin meralat nama atau mengganti nama juga berasal dari Konfusius, maksudnya adalah agar penguasa menjadi penguasa yang benar, ayah menjadi ayah yang benar, dll., dengan kata lain tiada ayah yang di sebut begitu kalau tidak bertindak seperti ayah dan tiada penguasa yang berhak atas posisinya kalau tidak menjalankan fungsinya. Aplikasi doktrin tersebut dalam masyarakat menunjukkan bahwa pangkat dan status harus dapat di bedakan dan tanggung jawab mereka sangat menentukan, dalam logika nama harus cocok dengan kenyataan, dalam metafisik kenyataan dan fungsi harus cocok satu sama lain.
Semua itu tidak menyamarkan fakta bahwa Konfusianis adalah standar rangkap untuk laki-laki dan perempuan. Dengan kalimat ”perhatian terhadap fungsinya masing-masing” menunjukkan bahwa tanggung jawab suami di luar dan istri di dalam rumah. Dalam pengertian ini mereka setara, sebagaimana Konfusianis menyatakan ’untuk menjadi istri adalah setara’ tetapi suami juga sebagai standar dari istrinya.
Neo-Konfusianis Sung menjatuhkan kode kaku khusus moral wanita, yang mengharuskan untuk melindungi kesucian di bawah segala keadaan dan berjanji untuk setia sepenuhnya kepada suaminya hidup atau mati.
Politik
Kesamaan perhatian yang di temukan pada ide Konfusian tentang pemerintahan di dapat dari Konfusius dan Mencius. Negara di lihat seperti keluarga besar yang di kepalai oleh seorang pemimpin yang bersifat kebapakan. Kebaikan di curahkan untuk kesejahteraan rakyatnya. Tidak boleh ada dua raja dalam negara seperti dua matahari di langit. Semua dalam keluarga harus menurut kepada ayah, sehingga semua teritorial dan warga negara menurut kepada pemimpin. Seperti sistem paternalistik dan absolutistik.
Menurut ajaran Konfusian, pemimpin memerintah jika mendapat mandat dari surga. Pendiri dinasti baru Cina biasanya mengklaim bahwa mereka mendapat mandat dari surga untuk memerintah. Konfusianis Jepang melebih-lebihkan ajaran kesetiaan kepada penguasa menjadi poin yang tidak dapat di terima Konfusianis Cina karena tidak pernah mempropagandakan doktrin revolusi. Menurut standar Konfusian, penguasa harus memerintah dengan contoh moral bukan dengan kekuatan. Pendeknya pemerintahan harus berada di tangan kebajikan dan terpelajar.
Pada masa dinasti Han, pegawai kerajaan wajib belajar Konfusianis Klasik, lalu di rekomendasikan, di promosikan sesuai basis pengetahuannya tentang Konfusianisme klasik. Dari 606 sampai 1905, seleksi besar-besaran yang kompetitif ujian tentang ajaran klasik di laksanakan, terbuka bagi siapa saja tanpa diskriminasi ras, jenis kelamin, umur, status sosial, atau kepercayaan agama. Setelah di jalankan mendekati 1300 tahun sistem itu akhirnya menjadi merosot dan curang, tidak memenuhi keperluan negara dan akhirnya di hapuskan. Apapun yang terjadi akhirnya Konfusianis memberikan bentuk kepemimpinan sosial dan politik.
Pendidikan
Konfusianisme hampir melengkapi kontrol pendidikan di Cina sekitar 2000 tahun. Sampai 1905 sistem pendidikan, buku teks, dan ide semuanya Konfusian. Objek fundamental pendidikan Konfusian adalah untuk mengembangkan sifat individu manusia dan untuk membentuk masyarakat yang baik meliputi penyelidikan benda-benda dan pembentukan kehidupan pribadi seperti yang diajarkan dalam pengajaran tinggi. Seperti yang di nyatakan oleh Konfusius ’dalam pendidikan seharusnya tidak ada perbedaan kelas’. Tentunya yang memperhatikan sekolah jumlahnya kecil, untuk sebuah masyarakat pertanian melek huruf bukan suatu keperluan dan kebanyakan orang terlalu miskin untuk menyekolahkan anaknya. Namun, tiap masyarakat memiliki sekolah – suatu hasil dalam jumlah besar ide Konfusian adalah fungsi besar pemrintah dan keluarga adalah mendidik pemuda di maksudkan untuk menanamkan pengetahuan dan melatih karakter, objek yang lebih luas untuk menyiapkan kepemimpinan untuk pemerintah dengan menyiapkan siswa untuk ujian sipil.
Lewat abad ke-20 menunjukkan bahwa pendidikan Konfusian tidak cukup untuk keperluan modern, maka tipe pendidikan barat di adopsi, ajarannya hanya salah satu bagian dari proses pndidikan Konfusian. Rumah dan komunitas setara pentingnya. Banyak Neo-Konfusianis terkemuka menulis kode moral untuk kekerabatan dan masyarakat dan klan, tentang kebajikan Konfusianis.
Keagamaan
Pada dasarnya Konfusianisme menghormati agama sebagai bentuk pendidikan. Di Cina kata untuk agama dan pendidikan adalah Chiao artinya mendidik. Agama Konfusianis berdiri untuk pembentukan moral. Hal ini bukan berarti bahwa agama yang di pahami Konfusianis tanpa aspek spiritual dan supranatural. Kemanusiaan Konfusian bukan tanpa karakter agama. Konfusius sendiri melarang diskusi tentang roh dan kehidupan setelah mati dan mengajarkan orang ”untuk menghormati roh tetapi tetap menjaga jarak”, bukan karena ia tidak religius, tapi karena menginginkan manusia melanjutkan hidupnya. Konfusius memahami mandat surga, dia berdoa, dan mendeklarasikan bahwa surga itu agung, karena kecenderungan ini Konfusianisme menganjurkan agama kuno, termasuk ibadah surga, menghormati leluhur, dan menghormati pimpinan yang mendapat supremasi.
Doktrin Konfusianis menginginkan mereka terbentuk sesungguhnya bukan karena leluhur akan memberikan hadiah atau sanksi, tapi supaya tetap melanjutkan hubungan manusia yang tidak harus terhenti hanya karena kematian. Kuil di bangun untuk pemimpin besar dan di adakan upacara khusus bukan karena mereka menjadi dewa, tapi sebagai ungkapan hormat. Seperti Konfusius, kuil Konfusius dapat di temukan di setiap perfektur, pemujaan besar di tujukan padanya dan titel bangsawan dianugerahkan dari waktu ke waktu. Tetapi bukan untuk di dewakan tetapi menyebutnya ’kesempurnaan sejati, hikayat utama, dan Guru utama’.
Konfusianisme tidak memiliki kitab, gereja, kependetaan, atau pernyataan keimanan, serta tidak ada lembaga keagamaan. Kereligiusannya pada tradisional dan filosofi. Teori tentang keabadian sangat murni humanistik – yakni kebajikan, kebijaksanaan, dan prestasi. Kepercayaannya terhadap hukum alam mengikuti mana yang baik dan jahat akan membawa konsekuensi masing-masing. Tetapi bagi Konfusianis kenyataan spiritual tertinggi adalah surga. Dengan kata lain, surga adalah dasar dari semua prinsip dan sumber dari hukum moral.
Kesejarahan
Pada awal dinasti Han, Konfusianis mulai menginterpretasi Annalen Musim Semi dan Musim Gugur karya Konfusius, sebuah laporan catatan sejarah tentang negaranya sendiri sebagai penjelmaan ’kata pengganti dan prinsip sejati’ yang mana petunjuk dan saran sebagaimana prinsip moral menyatakan dalam kejadian sejarah. Kebanyakan Konfusianis berpegang pada teori siklis, zaman keemasan pada zaman dahulu, masa sekarang adalah salah satu penurunan, dan hikayat akan muncul untuk menyelamatkan bumi dan membawa pada zaman keemasan kembali.
Konfusianis selanjutnya selalu melihat pada masa kuno sebagai model, khususnya Kaisar Legendaris Yao dan Shun di tampilkan kembali oleh Konfusius sebagai contoh kesempurnaan kebajikan dan kebijaksanaan. Ketika Konfusius menyajikan kembali legenda itu sebagai standar, ia menyajikan kasus nyata dalam sejarah yang di alaminya sendiri dan membuktikan bahwa idenya bukan sekedar omong kosong.
Konsep Konfusianis dalam sejarah menghasilkan 2 karakteristik bagi orang Cina. Yang pertama adalah pengertian yang kuat terhadap sejarah sebagai wacana tentang catatan lengkap kembali pada masa kuno dan dengan referensi umum sejarah dalam mendiskusikan segala objek. Sedang yang lain adalah yakin akan masa depan negara idaman di dunia. Orang Cina mengkritik keras terhadap kepercayaan Budha dan Taois di gambarkan dalam surga yang menyenangkan sebagai kekurangan kepercayaan dalam sejarah.
Keilmuan
Konfusius mengingatkan muridnya untuk mempelajari nama-nama burung, binatang buas, tanaman, dan pepohonan. Keseluruhan tradisi Konfusian penuh dengan semangat skeptisisme yang memberikan rangsangan untuk penemuan ilmiah. Neo-Konfusianis mengajarkan bahwa rumput tajam pun harus di teliti dan penyelidikan harus di lakukan dengan induktif maupun deduktif. Di gambarkan bahwa ketika Chu Hsi mengajar di suatu bukit dan menemukan fosil, dia mempelajarinya secara objektif, dan menyimpulkan bahwa puncak bukit itu dulunya adalah dasar laut, sehingga di temukan fosil alam, jauh beberapa ratus tahun sebelum di lakukan di Eropa. Tetapi Konfusianis tidak pernah mengembangkan ilmu alam. Hal itu mungkin karena pimpinan Konfusianis tertarik pada masalah sosial dan moral, seperti halnya Mencius yang paling peduli pada prinsip moral, dan Konfusianis Cina mengikutinya.
Kesenian
Konfusianis Han Awal sering menyatakan : dalam puisi tiada hal-hal yang merusak akhlak. Kesopanan dalam puisi atau sastra kuno dan musik dan menuntut seni harus mengajarkan pelajaran moral. Neo-Konfusianis adalah moralis, menjaga tradisi dan mempertahankannya. Konfusianis berikutnya menguasai penulisan sejarah, prosa, puisi, namun lemah dalam tarian dan musik. Ketika mereka kembali pada ritus sosial dan religius pertumbuhannya terpantau. Kaligrafi dan lukisan, lanskap lukisan istimewa kebanyakan terinspirasi dari Taoisme, tetapi sejak menjadi kesusastraan utama menggunakan kuas dan tinta, menjadi seniman tidak terhindarkan juga bagi Konfusianis. Menurut standar Konfusian fungsi kaligrafi dan lukisan bukan untuk hiburan tapi untuk memurnikan dan menyelaraskan emosi. Apalagi sejak drama dan novel sering memuat emosi vulgar, sehingga di perkecil oleh Konfusianis.
HUBUNGAN KONFUSIANIS, BUDHA, DAN TAO
Tao sebagai filosofi menurun setelah abad ke-4, pada masa itu Tao dan Budha secara mutualis mempengaruhi satu sama lain. Budhist mengintepretasi filosofinya dalam terminologi Tao, dan Taois mengasimilasi ide-ide dari Budha, bahkan menjadi tangan kanan Budhisme. Kedua filosofi tersebut pengaruhnya hebat sampai melewati masa Neo-Konfusianisme, dengan ”Jalan ketenangan dan tindakan tanpa usaha”nya. Neo-Konfusianis menyerangnya dan hasilnya Taois berhenti menjadi sistem vital pada akhir milenium. Sebagai pandangan hidup Konfusianisme tak pernah melemah, dia terus memegang kebudayaan dan kehidupan Cina.
Semangat keselarasan, kesederhanaan, dan kedamaian berbicara banyak pada lanskap lukisan Cina, puisi, minum teh, dll., dan semangat naturalisme, individualisme, dan kebebasan melekat kuat dalam kehidupan orang Cina.
NEO-KONFUSIANISME
Neo-Konfusianisme adalah sintesa dari 3 ajaran yakni, Konfusianis, Tao, dan Budha. Setelah abad ke-11, Konfusianis lelah terhadap kritik tekstual dan karangan yang muluk-muluk. Meskipun mereka menolak doktrin asing, namun mereka tidak dapat melawan daya tariknya, gabungan Taois dan Budhis kedalam sistem Konfusianis dalam prosesnya menjadikan Konfusianisme baru atau Neo-Konfusianisme.
Esensi Neo-Konfusianisme pada masa dinasti Sung, moral Konfusius dan ajaran sosial di letakkan dalam pondasi metafisika. Dua ajaran terkemuka Neo-Konfusianis adalah ajaran rasional Cheng-Chu dan sekolah Idealis Lu-Wang (Lu Hsiang-Shan dan Wang Yang-Ming). Perbedaan keduanya di tunjukkan oleh tokoh Chu Hsi dan Lu Hsiang-Shan, bagi Chu-Hsi prinsipil dan kekuatan materi berbeda jauh, sedang bagi Lu, keduanya adalah satu. Bagi Chu pikiran adalah fungsi dari prinsipil, sedang bagi Lu itulah prinsipil. Prinsipil bagi Chu di temukan dalam benda-benda, bagi Lu dalam pikiran. Sebagai pandangan hidup menurut Chu Hsi ; mengikuti pola belajar dan inkuiri, sedang Lu menyatakan ; menghormati sifat moral. Kedua pemikiran ini menyerang Budha, tapi titik berat pemikiran tentang prinsipil dan pemikiran berasal dari Budha.
KONFUSIANISME DI CINA MODERN
Konfusianisme telah 2000 tahun bertahan memegang ajaran dan kebudayaan Cina. Selama itu menjadi lebih dan lebih konservatif. Kehilangan vitalitasnya, semangat rasionalisme, humanisme, dan moralisme tak pernah melemah. Ketika Komunis memegang kontrol atas Cina pada 1949, Konfusianis menghadapi masa depan yang tidak pasti. Libur nasional pada ulang tahun Konfusius di hapuskan. Sistem kekerabatan yang menjadi sentral intuisi di perkecil. Meskipun demikian kuil-kuil Konfusianis tetap di pelihara, ajaran klasik tetap di publikasikan dan pemimpin komunis menyatakan bahwa mereka tetap harus belajar dari Konfusianis seperti mereka belajar dari pemimpin besar mereka, dan mereka harus menyerap elemen atau unsur demokrat dari peradaban Cina yang kebanyakan peradaban Konfusianis. Pada akhirnya Konfusianisme berubah tetapi esensinya tetap esensi Konfusianisme.

Sumber :
Encyclopedia Britanica
Filsafat umum


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: