Neoratnayuwinda

welcome in my 2nd time

bab 2

on August 12, 2009

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Konsep Pelatihan
Menurut Ahmad (2006 : 17) pelatihan sering dikaitkan dengan pendidikan, dalam maksud pelaksanaan pelatihan dan pendidikan hampir sama, yang membedakannya adalah ruang lingkup kegiatannya.
Pelatihan menurut Suryana Sumantri (2005 : 14) dalam Ahmad (2006 : 19) adalah usaha dalam bentuk tertentu untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan, serta sikap dan perilaku sesuai dengan perubahan teknologi atau sesuai dengan tuntutan pekerjaan dan biasanya dilaksanakan dalam waktu relatif singkat.
Menurut Komaruddin ( 2002 : 51) dalam Ahmad (2006 : 19) pelatihan kadang disebut latihan adalah salah satu jenis proses belajar untuk memperoleh atau meningkatkan keterampilan di luar sistem pendidikan yang berlaku dalam waktu yang relatif singkat dan dengan metode yang lebih mengutamakan praktik dari pada teori.
Konsep dasar pelatihan dikemukakan oleh Omar Hamalik (2002 : 10-12) dalam Ahmad (2006 : 20) adalah sebagai berikut :
a. Pelatihan adalah suatu proses, artinya terarah untuk mencapai tujuan tertentu terkait dengan upaya pencapaian tujuan organisasi
b. Pelatihan dilaksanakan dengan sengaja
c. Pelatihan diberikan dalam bentuk pemberian bantuan
d. Sasaran pelatihan adalah unsur ketenagakerjaan
e. Pelatihan dilaksanakan oleh tenaga profesional
f. Pelatihan dilakukan dalam satuan waktu tertentu
g. Pelatihan meningkatkan kemampuan kerja peserta.

2.1.1 Tujuan dan Manfaat Pelatihan
Henry Simamora (2001 : 288-290) dalam Ahmad (2006 : 22) mengelompokkan tujuan pelatihan menjadi lima kelompok yaitu :
a. Memutakhirkan keahlian para karyawan sejalan dengan perubahan teknologi
b. Mengurangi waktu belajar bagi karyawan baru untuk menjadi kompeten dalam pekerjaan
c. Membantu memecahkan permasalahan operasional
d. Mempersiapkan karyawan untuk promosi
e. Mengorientasikan karyawan terhadap organisasi

Dalam tulisan ini tujuan dan manfaat tersebut bermakna sebagai berikut :
a. Memutakhirkan atau meningkatkan keterampilan guru-guru di SMP Negeri 1 Tanjung sejalan dengan perubahan teknologi, khususnya guru mata pelajaran Sains
b. Mengurangi waktu belajar bagi guru mata pelajaran untuk menjadi kompeten dalam mengajar yaitu mengajar dengan efektif dan lebih baik.
c. Membantu memecahkan permasalahan belajar mengajar di kelas, dari kelas bagus menjadi luar biasa.
d. Persiapan guru untuk promosi atau naik pangkat.
e. Mengorientasikan guru terhadap sekolah umumnya, dan kelas pada khususnya.

2.2 Teori Motivasi
Thomas M. Risk dalam Ahmad Rohani (2004 :11) memberikan pengertian motivasi sebagai berikut : motivasi adalah usaha yang disadari oleh pihak guru untuk menimbulkan motif-motif pada diri peserta didik yang menunjang kegiatan kearah tujuan-tujuan belajar.
Kemudian Prof. S. Nasution mengemukakan motivasi peserta didik adalah menciptakan kondisi sedemikian rupa sehingga peserta didik itu mau melakukan apa yang dapat dilakukannya.
Ahmad Rohani (2004 : 13) menjelaskan bahwa
ada dua kemungkinan bagi peserta didik yang memotivasi keterlibatannya dalam aktivitas belajar yaitu :
a) Karena motivasi yang timbul dari dalam dirinya sendiri
b) Karena motivasi yang timbul dari luar dirinya.
Kebutuhan keterlibatan dalam belajar mendorong timbulnya motivasi dari dalam dirinya, misalnya karena mereka memandang belajar itu bermanfaat bagi dirinya, tujuan seperti menambah pengetahuan, keterampilan, dll. Sedang yang dari luar, disebabkan karena ada hadiah penghargaan, menghindari celaan, dan ada pujian.

2.3 Gambaran umum Quantum Teaching
Sebagai model yang diadaptasi dari sebuah pelatihan, Quantum Teaching berisi hal-hal dibawah ini :
a. Selamat datang di dunia Quantum, berisi tentang asas utama : bawalah dunia mereka ke dunia kita dan lima prinsip Quantum Teaching, serta untuk pertama kalinya melihat kerangka rancangan belajar Quantum Teaching yaitu TANDUR
b. Orkestrasi Suasana merupakan bab pertama dalam bagian konteks yang menggali bahan-bahan yang diperlukan untuk suasana yang sehat dan menggairahkan untuk belajar seperti Niat, Jalinan, Keriangan dan Ketakjuban, Pengambilan risiko, Rasa saling memiliki, dan Keteladanan di Kelas.
c. Orkestrasi Landasan, mempelajari peran Tujuan, Prinsip, Keyakinan, Kesepakatan, Kebijakan Prosedur dan Pengaturan untuk mengorkestrasi konteks untuk belajar optimal. Disamping itu ada cara-cara untuk menjaga komunitas belajar agar tetap tumbuh, menciptakan kemitraan, dan memberikan visi tentang segala kemungkinan.
d. Orkestrasi Lingkungan adalah cara-cara memperbaiki pengajaran melalui musik, lingkungan sekitar dan penggunaan alat-alat Bantu, disamping tanaman, aroma, dan pengaturan bangku misalnya berbentuk huruf U.
e. Perancangan Pembelajaran merupakan perluasan asas utama, menekankan kebutuhan untuk meraih hak mengajar. Prinsip segalanya bertujuan disegarkan oleh modalitas VAK, multiple intelligence, dan model kesuksesan. Juga penjelasan lebih jauh tentang TANDUR.
f. Presentasi adalah bab kedua dalam bagian isi. Pencocokan modalitas, prinsip-prinsip komunikasi ampuh, dan tindakan non verbal yang ampuh dimasukkan kedalam pengajaran. Juga dilengkapi dengan 3 paket presentasi : penemu, pemimpin, dan pengarah.
Quantum identik dengan bidang eksakta. Secara harfiah artinya interaksi yang mengubah energi menjadi cahaya. Bila diterapkan dalam pembelajaran interaksi ini mengubah kemampuan dan bakat alamiah siswa menjadi cahaya yang akan bermanfaat bagi orang lain. Menurut Bobbi DePorter (2005 : 3) Quantum Teaching adalah pembelajaran dengan menggabungkan unsur seni dan pencapaian tujuan belajar yang terarah agar mampu melejitkan prestasi siswa, juga menggubah menjadi meriah dengan segala suasananya.
Dari pengertian diatas, dapat dirumuskan bahwa Quantum Teaching mengandung unsur-unsur sebagai berikut :
a. Interaksi gabungan
b. Unsur seni
c. Pencapaian tujuan belajar
d. Pembelajaran meriah
e. Melejitkan prestasi
Dua unsur khusus yang membedakan Quantum Teaching dengan yang lain adalah adanya unsur seni dan melejitkan prestasi. Pada umumnya pembelajaran yang melejitkan prestasi adalah pembelajaran yang serius dan berat. Tetapi kombinasi antara unsur yang menyenangkan yaitu seni dan melejitkan prestasi siswa membuat Quantum Teaching menjadi metode belajar yang unik sekaligus menantang baik bagi guru maupun siswa.
2.3.1 Kata Kunci dalam Quantum Teaching
Bobbi (2005 : 5-6) menjelaskan kata kunci dalam Quantum Teaching adalah hal-hal berikut :
a. Quantum adalah orkestrasi bermacam-macam interaksi yang ada di dalam dan di sekitar momen belajar, interaksi ini mencakup unsur-unsur untuk belajar efektif yang mempengaruhi kesuksesan siswa
b. Pemercepatan belajar artinya menyingkirkan hambatan belajar yang menghalangi proses belajar alamiah dengan sengaja menggunakan musik, mewarnai lingkungan sekeliling, menyusun pengajaran yang sesuai, cara efektif penyajian, dan keterlibatan aktif
c. Fasilitasi adalah memudahkan segala hal, setelah menyingkirkan hambatan proses belajar, lalu mengembalikan kepada proses belajar yang mudah dan alami.

2.3.2 Asas Utama Quantum Teaching
Asas utama dalam Quantum Teaching menurut Bobbi (2005 : 6) adalah bawalah dunia mereka ke dunia kita, dan antarkan dunia kita ke dunia mereka. Kata mereka merujuk pada siswa, dan kita adalah guru. Dengan kata lain, bawalah dunia siswa ke dunia guru, dan antarkan dunia guru ke dunia siswa. Artinya sebagai seorang guru harus memasuki dunia siswa terlebih dahulu, setelah memasuki dunia siswa, guru bisa menuntun dan memudahkan siswa menuju kesadaran dan ilmu pengetahuan yang lebih luas. Kombinasi antara pengalaman yang diperoleh dari dunia siswa dengan dunia guru yang lebih luas akan dibawa pulang oleh siswa dan menerapkannya dalam situasi baru.

2.3.3 Prinsip-prinsip dalam Quantum Teaching
Bobbi (2005 : 7-8) menjelaskan prinsip Quantum Teaching ada lima yaitu :
a. Segalanya berbicara. Lingkungan belajar, bahasa tubuh guru dan rancangan pembelajaran, semua menyampaikan pesan belajar
b. Segalanya bertujuan. Tidak ada yang sia-sia dalam setiap unsur pembelajaran
c. Pengalaman sebelum pemberian nama, artinya siswa mengalami atau mengetahui informasi tersebut
d. Akui setiap usaha. Belajar adalah kegiatan yang mengandung resiko, apabila siswa berani mengambil resiko tersebut, guru patut memberikan pengakuan
e. Jika layak dipelajari, maka layak pula dirayakan. Perayaan perlu diadakan setelah selesai pembelajaran agar emosi positif siswa dalam hal belajar meningkat.

2.3.4 Kerangka Belajar TANDUR
Bobbi menyatakan (2005 : 10, 88-89) kerangka belajar dalam Quantum Teaching disebut dengan TANDUR. Merupakan kependekan dari Tumbuhkan, Alami, Namai, Demonstrasikan, Ulangi, dan Rayakan. Lebih jauh mengenai TANDUR adalah sebagai berikut :
a. Tumbuhkan, yang ditumbuhkan adalah minat siswa dengan konsep AMBAK (Apa Manfaatnya BAgi Ku)
b. Alami, datangkan pengalaman umum dari materi yang dipelajari dengan contoh yang dimengerti oleh semua siswa dan dekat dengan pengalaman mereka
c. Namai, berupa pemberian kata kunci, konsep, model, rumus atau strategi dari materi
d. Demonstrasikan, guru menyediakan kesempatan kepada siswa bahwa mereka tahu mengenai materi yang dibahas
e. Ulangi, tunjukkan kepada siswa cara mengulang materi dan menegaskan bahwa siswa tahu kalau mereka mengetahui tentang materi yang dibahas
f. Rayakan, pengakuan dari penyelesaian, partisipasi, perolehan keterampilan dan pengetahuan siswa.

2.3.5 Modalitas Belajar VAK
Modalitas VAK menurut Bobbi (2005 : 84-85) adalah kependekan dari Visual-Auditorial-Kinestetik. Hal ini berhubungan dengan cara belajar siswa. Dalam satu kelas, kemampuan siswa dalam menyerap materi yang diajarkan berbeda dan memiliki cara belajar yang berbeda pula. Ada yang lebih menyerap materi dengan cara visual atau melihat, misalnya dengan membaca instruksi atau melihat diagram. Ada yang dengan cara auditorial atau mendengar, misalnya dengan meminta seseorang membacakan suatu cara kepadanya. Ada pula dengan cara kinestetik yaitu belajar dengan cara bergerak, menyentuh atau bekerja, misalnya dengan mengerjakan soal sendiri. Pembelajaran Quantum Teaching membolehkan siswanya untuk berjalan-jalan dan berbicara di kelas sepanjang sesuai dengan materi pelajaran yang dibahas.

2.4 Jenjang Sekolah di Indonesia
Ary H. Gunawan (1996 : 182) menyatakan berdasar tingkat atau jenjang sekolah, maka organisasi pendidikan formal di Indonesia tersusun dari tingkat bawah sampai atas yaitu TK, SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi.

2.5 Interaksi Edukatif
Umar Tirtarahardja dan La Sulo (2000 : 56) menjelaskan bahwa

interaksi edukatif antara peserta didik dengan pendidik pada dasarnya adalah komunikasi timbal balik antarpeserta didik dengan pendidik yang terarah kepada tujuan pendidikan. Pencapaian tujuan pendidikan secara optimal ditempuh melalui proses berkomunikasi intensif dengan memanipulasikan isi, metode, serta alat-alat pendidikan.

2.6 Inovasi Pendidikan

Hasbullah (2006 : 190-191) menjelaskan bahwa :
Inovasi adalah perubahan-perubahan yang terjadi pada aspek-aspek tertentu, dalam arti lebih sempit dan terbatas. Tujuan utama inovasi adalah berusaha meningkatkan kemampuan yakni kemampuan dari sumber-sumber tenaga, uang, sarana dan prasarana, termasuk struktur dan prosedur organisasi.

2.6.1 Masalah yang Menuntut Inovasi Pendidikan
Hasbullah (2006 : 201) menerangkan beberapa masalah yang menuntut inovasi salah satunya adalah menurunnya kualitas pendidikan.

2.6.2 Masalah yang Harus Dipecahkan Melalui Inovasi Pendidikan
Hasbullah (2006 : 201-202) menerangkan beberapa masalah yang harus dipecahkan melalui inovasi adalah sebagai berikut :
a) Kurang meratanya pelayanan pendidikan
b) Kurang serasinya kegiatan belajar dengan tujuan
c) Belum efisien dan ekonomisnya pendidikan
d) Belum efektif dan efisiennya sistem penyajian
e) Kurang lancar dan sempurnanya sistem informasi kebijakan
f) Kurang dihargainya unsur kebudayaan nasional
g) Belum kokohnya kesadaran, identitas, dan kebanggaan nasional
h) Belum tumbuhnya masyarakat yang gemar belajar
i) Belum tersebarnya paket pendidikan yang memikat, mudah dicerna, dan mudah diperoleh
j) Belum meluasnya kesempatan kerja.

Dalam pembahasan ini poin yang akan dibahas adalah mengenai poin d, yaitu belum efektif dan efisiennya sistem penyajian pembelajaran di kelas.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: